
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Persepsi risiko investasi atawa Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun Indonesia naik pada pertengahan Mei 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, CDS lima tahun Indonesia tercatat naik ke level 89,73% pada Senin (18/5/2026), dari 87,09% di Jumat (15/5/2026). Kenaikan CDS ini sejalan dengan tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami pelemahan 3,76% di perdagangan sesi I, Senin (18/5/2026).
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan umumnya kenaikan CDS mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap aset Indonesia. Sentimen utamanya dinilai berasal dari kombinasi faktor global dan domestik.
Dari global, pasar masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga The Fed, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta arus modal asing yang cenderung lebih selektif ke emerging markets. Sementara dari domestik, tekanan muncul akibat pelemahan IHSG yang cukup dalam, kenaikan yield SBN, serta kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan potensi perlambatan ekonomi domestik.
BEEF Gelar Buyback Saham, Siapkan Dana Rp 100 Miliar
“Dengan CDS dan yield obligasi yang naik, kondisi ini cenderung negatif untuk harga aset keuangan dalam jangka pendek,” kata Elandry kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Di pasar saham, kenaikan risk premium membuat valuasi saham tertekan karena investor menjadi lebih defensif dan foreign flow berpotensi keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia. Sementara di pasar obligasi, kenaikan yield menyebabkan harga obligasi turun, terutama untuk tenor panjang.
Jadi investor yang sudah memegang obligasi akan mengalami tekanan mark to market dalam jangka pendek. Namun untuk investor yang membeli obligasi baru, kondisi ini justru membuka peluang mendapatkan yield yang lebih menarik apabila volatilitas mulai mereda.
Untuk saham, investor dapat mempertimbangkan sektor defensif dan berbasis konsumsi domestik yang relatif lebih tahan terhadap volatilitas global, seperti perbankan besar, consumer goods, telekomunikasi, serta sektor healthcare. Saham dengan fundamental kuat, cash flow stabil, dan dividen menarik biasanya menjadi pilihan saat market risk meningkat.
Sedangkan untuk instrumen investasi, investor konservatif dapat mulai mempertimbangkan obligasi pemerintah secara bertahap ketika yield sudah cukup menarik, khususnya apabila ekspektasi penurunan suku bunga mulai muncul pada semester II. Selain itu, instrumen pasar uang dan deposito juga masih relevan untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas tinggi.
Jababeka (KIJA) Dapat Fasilitas Kredit dari Bank Mandiri Senilai US$ 185,85 Juta
Untuk proyeksi return hingga akhir tahun, Elandry melihat pasar masih akan bergerak cukup fluktuatif mengikuti perkembangan global dan arah kebijakan suku bunga dan kemampuan pemerintah dalam mengelola kebijakan fiskal saat ini.
“Namun apabila tekanan eksternal mulai mereda dan arus dana asing kembali masuk, IHSG masih berpeluang mengalami recovery pada semester II-2026,” tambahnya.