Banyak investor pernah mengalami penyesalan setelah membeli atau menjual saham. Ketika harga saham turun tajam, rasa panik sering membuat investor mengambil keputusan emosional yang justru merugikan.
Pakar keuangan sekaligus pembawa podcast terkenal, Suze Orman, membagikan satu prinsip penting tentang kapan investor sebaiknya menjual saham meskipun sedang rugi. Menurutnya, saham layak dilepas bukan semata-mata karena harganya turun, tetapi ketika kualitas perusahaan dan manajemen di baliknya sudah tidak lagi menjanjikan.
1. Jangan fokus pada harga saham saja
Banyak investor terlalu fokus pada naik turunnya harga saham harian. Padahal, menurut Orman, faktor terpenting adalah kondisi bisnis perusahaan itu sendiri. Jika perusahaan sudah mulai mengalami:
-
Penurunan pendapatan
-
Utang yang terus membengkak
-
Kehilangan daya saing
-
Masalah manajemen
-
Perubahan bisnis yang memburuk
maka itu bisa menjadi sinyal bahwa saham tersebut tidak lagi layak dipertahankan. Ia menegaskan bahwa keputusan menjual seharusnya didasarkan pada melemahnya fundamental perusahaan, bukan sekadar fluktuasi harga jangka pendek.
2. Pahami alasan membeli saham sejak awal
Sebelum membeli saham, investor perlu benar-benar memahami bisnis perusahaan yang dipilih. Menurut Fidelity Investments, riset dan pemahaman bisnis menjadi dasar penting dalam investasi saham.
Investor sebaiknya mampu menjelaskan:
-
Apa bisnis utama perusahaan
-
Bagaimana perusahaan menghasilkan uang
-
Mengapa perusahaan memiliki prospek masa depan yang baik
Jika seseorang membeli saham hanya karena ikut tren atau rekomendasi orang lain, risiko mengambil keputusan emosional akan jauh lebih besar.
3. Jangan panik saat pasar turun
Suze Orman juga mengingatkan bahwa penurunan harga sementara bukan alasan otomatis untuk menjual saham. Jika perusahaan masih memiliki fundamental yang kuat dan prospek jangka panjang yang baik, investor justru perlu bersabar menghadapi volatilitas pasar. Dalam banyak kasus, saham berkualitas dapat kembali naik bahkan mencetak rekor baru setelah melewati periode koreksi.
4. Dua Alasan buruk saat membeli saham
-
Membeli berdasarkan emosi
Menurut Orman, salah satu kesalahan terbesar investor adalah membeli saham karena emosi atau euforia pasar. Jika investor tidak dapat menjelaskan dengan sederhana mengapa mereka percaya pada perusahaan tersebut, kemungkinan besar keputusan investasinya tidak didasarkan pada analisis yang matang.
Selain itu, jika sebuah saham terus membuat investor stres dan cemas berlebihan, hal tersebut juga bisa menjadi tanda bahwa saham tersebut tidak cocok untuk dipertahankan dalam portofolio.
-
Hanya mengandalkan harapan
Banyak investor tetap mempertahankan saham yang buruk hanya karena berharap harga akan kembali naik. Padahal, menurut Orman, harapan bukan strategi investasi.
Jika fundamental bisnis sudah rusak akibat masalah manajemen, utang, atau penurunan bisnis permanen, bertahan hanya karena “semoga naik lagi” bisa berubah menjadi spekulasi berisiko tinggi.
Dalam kondisi seperti itu, investor perlu lebih realistis dan mengevaluasi kembali apakah saham tersebut masih memiliki masa depan yang jelas.
5. Pentingnya evaluasi portofolio secara berkala
Investor tidak perlu langsung panik setiap kali pasar bergejolak. Namun, evaluasi rutin tetap penting untuk memastikan setiap saham dalam portofolio masih sesuai dengan tujuan investasi dan toleransi risiko. Jika ragu mengambil keputusan, berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional dapat membantu melihat kondisi investasi secara lebih objektif.
Menjual saham dalam kondisi rugi memang bukan keputusan mudah. Namun menurut Suze Orman, keputusan tersebut sebaiknya diambil ketika masalah utama ada pada perusahaan, bukan hanya pada pergerakan harga sementara.
Investor yang disiplin biasanya tidak hanya fokus mengejar keuntungan, tetapi juga memahami kapan harus keluar dari investasi yang sudah kehilangan fundamentalnya. Dalam dunia investasi, menjaga kualitas portofolio sering kali lebih penting daripada sekadar bertahan karena berharap harga akan pulih.
4 Tips Menyusun Rencana Investasi Jangka Panjang agar Tetap Efektif 4 Perbedaan Utama Emas untuk Investasi dan Perhiasaan