BI ungkap alasan RI tinggalkan dolar, transaksi LCT meledak 309 persen

Makassar, IDN Times – Bank Indonesia (BI) menilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) semakin penting untuk diperkuat di tengah dinamika global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan skema transaksi menggunakan mata uang lokal mampu mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus meningkatkan efisiensi perdagangan antarnegara.

Berdasarkan data BI hingga April 2026, rata-rata bulanan pelaku LCT mencapai 5.265 pelaku. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022. Tren kenaikan berlanjut pada 2023 yang mencapai 2.602 pelaku, lalu melonjak menjadi 5.020 pelaku pada 2024. Bahkan pada 2025, rata-rata bulanan pelaku LCT sempat menembus 9.720 pelaku.

“Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” tegasnya dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, Jumat (21/5/2026).

1. Data Januari-April nilai transaksi LCT capai 22,61 miliar dolar AS

Menurut Ruth, sejumlah negara kini mulai mempercepat kerja sama bilateral penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Indonesia disebut menjadi salah satu negara yang cukup agresif mendorong implementasi LCT dan mulai mendapat pengakuan dari negara-negara mitra.

Selain jumlah pelaku, volume transaksi LCT juga meningkat tajam. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT tercatat mencapai 22,61 miliar dolar AS atau naik 309 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,33 miliar dolar AS.

Ruth menyebut kenaikan volume transaksi LCT mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. Langkah ini juga bertujuan mengurangi dampak gejolak global, khususnya akibat fluktuasi dolar AS, terhadap transaksi perdagangan dan keuangan antarnegara.

“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” katanya.

2. Transaksi LCT dengan China paling besar

Ruth mengatakan negara mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT saat ini adalah China, Jepang, dan Malaysia. Kontribusi transaksi terbesar berasal dari China sebesar 89 persen, disusul Jepang 6 persen, dan Malaysia 3 persen.

Bank sentral menilai skema LCT mampu meningkatkan efisiensi biaya transaksi karena pelaku usaha tidak perlu lagi menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara dalam perdagangan bilateral. Selain itu, LCT juga dinilai mendorong diversifikasi eksposur mata uang, memperdalam pasar keuangan regional, serta memperluas akses partisipasi pelaku pasar di kawasan.

3. LCT juga akan diimplementasikan ke Singapura, India, dan Arab Saudi

Ruth menjelaskan implementasi LCT Indonesia dimulai sejak 2018, dimulainya dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea Selatan.

Sementara itu, implementasi LCT dengan Singapura dan India akan dilakukan setelah penyusunan serta penyepakatan operational guidelines.

“Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” ujar Ruth.

Bank Indonesia Dituntut Bertanggung Jawab Jaga Stabilitas Rupiah