Bitcoin gagal bertahan di US$ 78.000, risiko koreksi ke US$ 70.000 masih terbuka

Ifonti.com JAKARTA. Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah gagal mempertahankan level psikologis US$ 78.000.

Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut menghapus sebagian kenaikan yang sempat terjadi pada sesi sebelumnya dan kembali bergerak di kisaran sedikit di atas US$ 77.000. Pada Jumat (22/5) pukul 13.25 WIB, harga Bitcoin tercatat di level US$ 77.375 atau melemah 0,35% harian.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih membayangi pasar kripto, terutama setelah Bitcoin sempat menembus US$ 78.000 untuk pertama kalinya dalam sesi perdagangan terbaru. 

Raharja Energi (RATU) Raih Restu Akuisisi Saham SMS Development US$ 141,2 Juta

Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama setelah muncul gelombang aksi jual yang membuat harga kembali turun ke bawah level tersebut.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan kegagalan Bitcoin mempertahankan level US$ 78.000 menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Menurutnya, pelaku pasar saat ini belum memiliki dorongan yang cukup kuat untuk membawa BTC kembali ke tren kenaikan yang lebih solid.

Katanya, penolakan di area US$ 78.000 menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih cukup dominan. Bitcoin memang sempat menunjukkan pemulihan jangka pendek, tetapi belum didukung oleh volume dan sentimen yang cukup kuat. 

“Selama harga belum mampu bertahan di atas area resistance tersebut, pergerakan Bitcoin masih berisiko kembali menguji level support terdekat,” ujar Fyqieh dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).

Fyqieh menilai area US$ 77.000 menjadi level penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam jangka pendek. Jika level ini mampu dipertahankan, Bitcoin masih memiliki peluang untuk bergerak stabil dan mencoba kembali menguji resistance di kisaran US$ 78.000 hingga US$ 80.000. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan Bitcoin turun di bawah area tersebut, potensi pelemahan menuju US$ 76.000 hingga US$ 70.000 tetap terbuka.

“Level US$ 77.000 saat ini menjadi area krusial. Jika mampu bertahan, pasar bisa melihat adanya upaya rebound teknikal. Namun, jika level ini ditembus dengan tekanan jual yang kuat, Bitcoin berpotensi melanjutkan koreksi ke area support yang lebih rendah. Karena itu, investor perlu memperhatikan pergerakan harga, arus dana ETF, serta indikator permintaan pasar sebelum mengambil keputusan,” tambah Fyqieh.

Pasar Saham Menanti Pengumuman FTSE Russell, Ini Skenario untuk IHSG

Fyqieh menjelaskan bahwa tekanan terhadap Bitcoin juga terjadi di tengah berlanjutnya arus keluar dari ETF Bitcoin spot. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian investor memanfaatkan pemulihan harga jangka pendek sebagai momentum untuk mengurangi risiko, bukan sebagai sinyal untuk kembali melakukan akumulasi.

Selain faktor teknikal, sentimen makroekonomi dan geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Bitcoin sebelumnya mengalami tekanan setelah muncul kekhawatiran terkait potensi kelanjutan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. 

Sejak 14 Mei, Bitcoin tercatat telah turun lebih dari US$ 4.500 atau hampir 6%, sehingga menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi sejak awal bulan. 

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar kripto masih sensitif terhadap kombinasi faktor eksternal, termasuk arah kebijakan makro, pergerakan pasar saham, arus dana institusional, dan minat investor ritel. Fyqieh menjelaskan bahwa pelemahan Bitcoin juga perlu dilihat dalam konteks pergeseran minat investor global terhadap aset berisiko. 

Di saat beberapa sektor saham, seperti teknologi dan semikonduktor, masih menarik minat pasar, aset kripto menghadapi tantangan untuk kembali menarik arus modal baru. Sehingga, pasar kripto saat ini membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk memulihkan kepercayaan investor. 

Selama arus dana institusional belum kembali positif dan permintaan ritel masih terbatas, Bitcoin kemungkinan akan bergerak dalam rentang yang volatil. Namun, volatilitas seperti ini juga menjadi bagian dari siklus pasar kripto yang perlu dihadapi dengan strategi dan manajemen risiko yang disiplin.

IHSG Rebound 0,30% ke 6.113 Sesi I Jumat (22/5), Top Gainers LQ45: MDKA, HRTA, INCO

Meski demikian, peluang pemulihan belum sepenuhnya tertutup. Jika Bitcoin mampu mempertahankan support utama dan arus dana kembali masuk ke instrumen investasi kripto, pasar berpeluang melihat pemulihan bertahap. Namun, dalam jangka pendek, investor masih disarankan untuk berhati-hati terhadap potensi volatilitas lanjutan.

 

Investor sebaiknya tidak hanya melihat pergerakan harga harian, tetapi juga memperhatikan struktur pasar secara menyeluruh. ETF flow, data on-chain, kondisi makro, dan level teknikal utama akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah Bitcoin berikutnya. Fyqieh menyarankan dalam kondisi seperti ini, investor dapat menerapkan strategi bertahap dan pengelolaan risiko lebih ketat.