
Ifonti.com JAKARTA. Portofolio investasi industri asuransi umum diperkirakan tidak akan mengalami perubahan yang signifikan meski Bank Indonesia (BI) tahan suku bunga acuan di level 4,75%.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2025, total investasi asuransi umum adalah sebesar Rp 131,43 triliun dengan komposisi Surat Berharga Negara (SBN), deposito, reksadana, obligasi korporasi, investasi lain, dan saham.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan menilai komposisi investasi tersebut tidak akan berubah secara signifikan, mengingat suku bunga juga tidak mengalami perubahan.
AAUI: Pendapatan Premi Reasuransi Mencapai Rp 17,82 Triliun per Akhir 2025
“Saya pikir komposisi seperti apa yang dipaparkan juga tidak akan berubah signifikan,” terangnya pada Jumat (20/2/26).
Meski begitu, ia mengatakan bahwa perhatian industri asuransi umum ke depannya mungkin akan tertuju pada penerbitan surat utang baru oleh pemerintah.
Jika pemerintah kembali menerbitkan instrumen utang, maka hal tersebut berpotensi menjadi target utama investasi.
Lebih lanjut, Budi menyebutkan sejumlah instrumen investasi yang masih menjadi incaran utama industri asuransi umum, seperti SBN, reksadana dengan underlying yang jelas, dan obligasi korporasi yang dinilai masih menjanjikan.
Pandangan itu sejalan juga dengan profitabilitas industri asuransi umum yang masih ditopang oleh kinerja hasil investasi.
AAUI Tengah Berkolaborasi dengan Asosiasi Lain untuk Membahas Skema Pembentukan MAB
“Karena memang benar bahwa penopang profitabilitas industri asuransi umum masih ditopang dari kinerja hasil investasi,” tutupnya.
Adapun rincian komposisi investasi asuransi umum pada 2025 menurut data OJK adalah didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) dengan porsi 35,9% atau bernilai Rp 47,21 triliun.
Kemudian diikuti oleh porsi deposito sebesar 18,4% dengan nilai Rp 24,20 triliun. Lalu reksadana sebesar 18,9% dengan nilai Rp 24,85 triliun.
Selanjutnya adalah obligasi korporasi dengan porsi 11,4% atau bernilai Rp 14,95 triliun. Diikuti oleh investasi lainnya sebesar 11,5% dengan nilai Rp 15,07 triliun. Sementara itu, instrumen saham memiliki porsi 3,9% dengan nilai Rp 5, 13 triliun.