Analis sebut kesepakatan tarif RI-AS bisa jadi katalis positif IHSG

Kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dinilai mampu meredam ketidakpastian global akibat perang dagang, serta menjadi katalis positif bagi perekonomian dan pasar saham domestik.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington D.C, Kamis (19/2) waktu setempat.

Dalam kesepakatan tersebut, sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia memperoleh fasilitas, dengan tarif hingga 0 persen di pasar AS. Sektor yang tercakup antara lain kelapa sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, elektronik dan semikonduktor, hingga alat pesawat terbang. Sementara sektor apparel dan tekstil mendapatkan tarif 0 persen melalui mekanisme tariff-rate quota (TRQ).

Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, menilai langkah pemerintah dalam mengamankan perjanjian dagang tersebut cukup strategis, terutama bagi industri berorientasi ekspor yang bersifat padat karya.

“Kita lihat pemerintah mampu melakukan langkah aman untuk menjaga prospek industri yang berhubungan dengan aktivitas ekspor ke Amerika Serikat. Dan industri-industri itu kebetulan memang banyak yang bersifat industri padat karya atau menyerap banyak tenaga kerja,” ucap Myrdal kepada kumparan, Selasa (24/2).

Myrdal mencontohkan industri tekstil dan sepatu sebagai sektor yang terdampak positif. Dengan adanya kepastian tarif rendah, menurutnya ketidakpastian akibat perang dagang global yang melibatkan Amerika Serikat terhadap Indonesia kini berkurang.

Katanya, sejumlah emiten yang berkaitan dengan ekspor dan investasi ke AS mulai menunjukkan tren positif, termasuk sektor tekstil, energi, dan teknologi.

“Kemarin kan kita lihat emiten tekstil mengalami kenaikan lalu juga emiten yang berkaitan dengan energi juga. Kalau kita lihat juga mengalami kenaikan begitu pula juga dengan emiten yang berhubungan dengan sektor terkait dengan teknologi. Ini juga ya sebenarnya nanti ke depannya akan terdampak ya walaupun untuk saat ini sih belum terlalu kelihatan ya,” jelasnya.

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai perjanjian tarif resiprokal Indonesia-AS bisa menjadi katalis positif bagi perekonomian Indonesia.

“Kalau terkait dengan perjanjian resiprokal tarif sebenarnya bisa memberikan katalis positif bagi perekonomian Indonesia,” ungkap dia.

Nafan menyoroti adanya kepastian penerapan tarif 10 persen untuk 18-19 produk tertentu, yang dinilai mampu menjaga keberlanjutan industri domestik serta mendorong pertumbuhan ekspor.

“Belum lagi juga komoditas misalnya kakao, atau kopi, belum lagi juga nikel, misalnya komoditas nikel, komoditas strategis lainnya yang bisa memberikan benefit bagi peningkatan ekspor kita,” kata Nafan.

Menurutnya, perbaikan dan stabilitas kinerja ekonomi bakal berdampak positif terhadap pasar modal, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Tentunya kalau kinerja ekonomi kita membaik, kinerja ekonomi kita stabil, tentunya juga pertumbuhan ekonomi kita akan stabil, sehingga tentunya ini bisa memberikan benefit bagi kinerja IHSG,” ungkap Nafan.

Dia juga menilai penguatan hubungan bilateral Indonesia-AS dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan berdampak pada persepsi global terhadap Indonesia. Terlebih, saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK tengah bernegosiasi dengan MSCI terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia.

“Tentunya dengan adanya peningkatan hubungan bilateral, Indonesia dan AS juga membuat, karena adanya ekonomi kita bisa lebih stable, sehingga bisa saja membuat MSCI, bisa mempertahankan status yang namanya emerging market untuk Indonesia,” tutur Nafan.