Anggaran MBG meroket, ini sektor paling cuan di awal 2026

Ifonti.com  JAKARTA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan percepatan signifikan di awal 2026. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, melaporkan bahwa realisasi anggaran MBG pada Januari 2026 mencapai Rp19,5 triliun.

Angka tersebut melampaui capaian bulanan tertinggi sepanjang tahun fiskal 2025 sebesar Rp 13,9 triliun pada November 2025, yang saat itu menjangkau 43,8 juta penerima manfaat. Pada Januari 2026, program ini telah melayani 60,7 juta penerima dengan dukungan sekitar 22.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dengan tren ini, MBG dinilai berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan penuh anggaran tahun fiskal 2026 (FY26) sebesar Rp 330 triliun.

Erajaya (ERAA) Bidik Pertumbuhan Kinerja di Momen Imlek-Ramadan, Intip Strateginya

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih, mengatakan percepatan belanja MBG berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang lebih luas di perekonomian.

“Dengan belanja MBG yang semakin meningkat, dampaknya tidak hanya pada penciptaan lapangan kerja yang kini telah melampaui satu juta tenaga kerja, tetapi juga berpotensi mendorong konsumsi di berbagai sektor,” ujar Andreas dalam riset 11 Februari 2026.

Andreas melihat potensi limpahan ke sektor telekomunikasi melalui peningkatan konsumsi data, termasuk emiten seperti Telkom Indonesia (TLKM), Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), dan XL Axiata (EXCL).

Selain itu, sektor produk konsumen harga terjangkau seperti Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) dan Mayora Indah (MYOR), ritel fesyen berbasis nilai seperti Matahari Department Store (LPPF) dan Ramayana Lestari Sentosa (RALS), hingga industri rokok seperti Wismilak Inti Makmur (WIIM) serta aktivitas makan di luar rumah juga diperkirakan terdampak positif.

Andreas memperkirakan, jika 1% dari belanja yang tidak tepat sasaran saat ini beralih menjadi konsumsi tambahan, maka terdapat potensi tambahan konsumsi lebih dari Rp 2 triliun per tahun di berbagai sektor tersebut.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia berencana menaikkan kuota impor grand parent stock (GPS) pada tahun 2026 menjadi sekitar 800.000 ekor, dari 580.000 pada tahun 2025.

Kebijakan ini ditujukan untuk memenuhi peningkatan permintaan daging ayam dari program MBG, mengurangi volatilitas harga day old chick (DOC) dan ayam pedaging (broiler), serta mendukung rencana investasi Rp 20 triliun oleh Danantara di industri perunggasan.

Pasar Saham Terangkat Faktor Musiman, Sektor Ritel & Transportasi Diuntungkan

Namun, Andreas mengingatkan peningkatan impor GPS berisiko memicu kelebihan pasokan ayam pedaging pada tahun 2028 dan berpotensi menimbulkan pemusnahan massal (culling) seperti yang terjadi pada tahun 2023.

“Untuk memitigasi risiko tersebut, pelaku industri perunggasan kemungkinan akan memperkuat segmen makanan olahan ke depan,” jelas Andreas.

Dari sisi harga, rata-rata harga DOC di Jawa Barat pada Januari 2026 tercatat naik menjadi Rp 7.055 per ekor atau tumbuh 0,5% secara bulanan ) dan melonjak 22,7% secara tahunan. 

Sebaliknya, harga ayam broiler turun menjadi Rp 19.489 per kilogram atau melemah 14,6% secara bulanan dan 1,7% secara tahunan.

Menurut Andreas, ketahanan harga DOC didorong oleh tingginya harga broiler pada Desember 2025 yang sempat mencapai Rp 22.814 per kilogram, serta faktor musiman menjelang Ramadan. Sementara itu, koreksi harga broiler pada Januari dinilai sebagai normalisasi yang sehat akibat peningkatan pasokan.

Dengan kuatnya realisasi belanja MBG, dinamika harga DOC dan broiler, serta pergerakan biaya input, Mirae Asset Sekuritas tetap mempertahankan proyeksi kinerja emiten perunggasan seperti CPIN dan JPFA.

Andreas menegaskan pihaknya juga mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor poultry, didukung perbaikan keseimbangan pasokan-permintaan serta progres berkelanjutan program MBG. Saham CPIN diberi rekomendasi buy dengan target harga di Rp 6.826. Sedangkan saham JPFA diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 3.750 per saham. 

Adapun risiko penurunan yang perlu dicermati meliputi harga DOC dan broiler yang lebih rendah dari perkiraan, kenaikan biaya input yang lebih tinggi dari estimasi, serta dampak MBG yang tidak sebesar ekspektasi.

Bursa Saham Asia Awal Pekan, Kospi & Nikkei Bisa Menguat di Tengah Sentimen Global