
Ifonti.com – JAKARTA. Harga emas Antam dan emas spot mengawali tahun 2026 dengan tren penguatan, didorong meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Tren kenaikan emas dinilai masih berpeluang berlanjut hingga kuartal I 2026, meski volatilitas dan potensi koreksi tetap membayangi.
Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menyampaikan, penguatan harga emas Antam di awal tahun ditopang oleh sejumlah katalis internal dan eksternal. Selain itu, permintaan lindung nilai dari investor ritel masih cukup tinggi seiring ketidakpastian ekonomi global.
Faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih fluktuatif, serta persepsi emas sebagai aset pelindung nilai di awal tahun saat rebalancing portofolio, turut menopang kenaikan harga.
OCBC Sekuritas Gandeng Makmur, Buka Pintu Saham untuk 19 Juta Investor
Sementara dari sisi global, Andy menjelaskan bahwa penguatan emas spot dipicu meningkatnya permintaan safe haven akibat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia. Ekspektasi penurunan suku bunga AS juga menekan imbal hasil obligasi, sehingga membuat emas kembali diminati.
“Pelemahan dolar AS, turunnya yield US Treasury, serta akumulasi emas oleh bank sentral dan investor institusional menjadi katalis utama penguatan harga emas spot,” ujar Andy kepada Kontan, Senin (12/1/2026).
Melihat kondisi tersebut, Andy menilai tren kenaikan harga emas masih berpeluang berlanjut hingga setidaknya pertengahan 2026, meski disertai volatilitas dan koreksi yang wajar.
Untuk kuartal I 2026, harga emas spot diperkirakan bergerak di kisaran US$ 4.300 – US$ 4.700 per ons troi.
Dengan asumsi nilai tukar rupiah relatif stabil, harga emas Antam berpotensi berada di rentang Rp 2,8 juta – Rp 3,2 juta per gram pada kuartal I 2026.
Meski prospeknya masih positif, Andy mengingatkan adanya sejumlah sentimen yang berpotensi menekan harga emas sepanjang 2026. Di antaranya kebijakan bank sentral global yang lebih ketat dari ekspektasi pasar, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi.
Selain itu, meredanya tensi geopolitik dan kembalinya sentimen risk-on di pasar keuangan, aksi ambil untung setelah reli agresif, serta melemahnya permintaan emas fisik akibat harga yang sudah terlalu tinggi juga dapat memicu koreksi.
Untuk strategi investasi, Andy menyarankan investor emas Antam tetap berfokus pada jangka menengah hingga panjang sebagai instrumen lindung nilai. Ia juga merekomendasikan pembelian bertahap atau dollar cost averaging saat terjadi koreksi, serta mencermati spread jual-beli agar tidak tergerus dalam jangka pendek.
Sementara bagi investor emas spot, pemanfaatan momentum tren perlu disertai manajemen risiko yang ketat, termasuk penggunaan stop-loss. Investor juga perlu memantau data inflasi, kebijakan suku bunga, serta dinamika geopolitik global yang menjadi penentu utama pergerakan harga emas.
Kepemilikan Bumi Resources (BUMI) Berubah: Chengdong Jual 3,7 Miliar Saham