Apa itu MSCI dan dampaknya terhadap pasar saham Indonesia?

Ifonti.com  MSCI merupakan salah satu aktor paling berpengaruh dalam industri manajemen aset global bernilai sekitar US$139 triliun.

Keputusan penyedia indeks ini kerap membawa dampak besar bagi pasar keuangan berbagai negara, termasuk Indonesia, yang merasakan efeknya pekan ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 16,7% dalam dua hari terakhir, setelah MSCI memperingatkan adanya kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.

Harga Emas Melesat, Masih Buka Peluang Bertahan di Level Tinggi pada 2026

Kekhawatiran tersebut memicu gelombang arus keluar modal asing dari pasar saham domestik.

Meski IHSG sempat memangkas pelemahan pada perdagangan Kamis (29/1/2026), indeks tetap ditutup turun 1,1%, menandai penurunan selama dua hari berturut-turut.

Apa Itu MSCI?

MSCI, singkatan dari Morgan Stanley Capital International, merupakan penyedia indeks global yang produknya menjadi acuan utama pasar saham dunia.

MSCI tidak melakukan investasi secara langsung, namun keputusan perusahaan ini terkait negara dan emiten yang masuk dalam indeks-indeks utamanya memiliki pengaruh besar terhadap alokasi dana investor global.

Salah satu indeks andalan MSCI adalah MSCI Emerging Markets Index, yang melacak sekitar US$10 triliun aset saham global.

Dibayangi Sentimen Pasar Saham, Begini Proyeksi Rupiah untuk Jumat (30/1/2026)

Masuk atau keluarnya suatu negara dari indeks ini dapat memicu penyesuaian portofolio otomatis oleh manajer investasi aktif maupun dana berbasis indeks (ETF), sehingga berpotensi menggerakkan arus modal bernilai miliaran dolar AS.

Selain MSCI, penyedia indeks lain seperti FTSE Russell dan S&P Global juga berperan besar dalam membentuk lanskap investasi global, seiring meningkatnya popularitas produk reksa dana berbasis indeks.

Apa yang Dilakukan MSCI terhadap Indonesia?

Dalam pernyataannya, MSCI menyebut adanya masukan dari klien terkait permasalahan transparansi data pasar di Indonesia.

Isu yang disorot antara lain ketidakjelasan mengenai porsi saham yang benar-benar dapat diperdagangkan secara bebas (free float), serta cara bursa mengklasifikasikan kepemilikan saham.

Sumber Alfaria (AMRT) Resmikan Gerai Baru di Bangladesh, Target 2026 Buka 100 Cabang

MSCI juga menilai struktur kepemilikan saham yang tidak transparan serta indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi telah mengganggu proses pembentukan harga yang wajar di pasar.

MSCI memberikan waktu hingga Mei 2026 kepada Indonesia untuk menunjukkan perbaikan.

Setelah itu, penyedia indeks tersebut akan melakukan penilaian ulang, yang berpotensi menurunkan bobot Indonesia dalam indeks pasar berkembang, atau bahkan menurunkannya ke kategori frontier market.

Ancaman inilah yang mengejutkan investor dan memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham.

Apa Dampaknya Jika Indonesia Turun Kelas?

Dalam sejarahnya, keputusan naik atau turun peringkat oleh MSCI sering kali berdampak signifikan terhadap arus modal dan kinerja pasar keuangan suatu negara.

Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana asing bisa mencapai US$7,8 miliar jika Indonesia benar-benar diturunkan ke status frontier market, meski skenario ini dinilai relatif kecil kemungkinannya oleh sebagian pelaku pasar.

IHSG Melemah 1,06% ke 8.232 pada Kamis (29/1/2026), BUMI, EXCL, PGEO Top Losers LQ45

Saat ini, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets sekitar 1%, jauh di bawah negara-negara besar seperti China, Taiwan, dan India.

Masih menjadi tanda tanya apakah langkah MSCI ini akan diikuti oleh penyedia indeks global lainnya.

FTSE Russell menyatakan tengah memantau perkembangan situasi di Indonesia secara saksama.

Respons Pemerintah dan Langkah Selanjutnya

Proses perubahan klasifikasi indeks biasanya memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sebelum efektif.

Namun, investor asing cenderung tidak menunggu lama ketika potensi arus keluar dana sudah terlihat.

Otoritas keuangan Indonesia menyatakan menerima masukan dari MSCI sebagai bahan evaluasi yang konstruktif.

Batas Free Float Naik 15%, BPJS Hingga Danantara Diminta Ambil Peran

Pemerintah juga menegaskan komunikasi dengan MSCI berjalan positif dan saat ini tengah menunggu tanggapan atas sejumlah usulan perbaikan, termasuk rencana menaikkan ketentuan free float minimum emiten menjadi 15%.

Indonesia sebelumnya pernah menunjukkan sikap tegas terhadap lembaga asing yang memberikan penilaian negatif terhadap pasarnya.

Pada 2015 dan 2017, pemerintah sempat memberikan sanksi kepada JPMorgan Chase & Co setelah lembaga riset bank tersebut merekomendasikan pengurangan eksposur terhadap aset keuangan Indonesia.