
Ifonti.com , JAKARTA – Emiten emas, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dan PT Bumi Recources Minerals Tbk. (BRMS) sama-sama sedang berekspansi mendorong kapasitas produksi emas. Namun, reaksi pasar dalam memberi apresiasi nampaknya berbeda.
Menilik data pasar per penutupan Jumat (13/2/2026) saham MDKA naik 0,94% ke Rp3.220, atau menguat 41,23% secara year to date (YtD). Saham emiten afiliasi Saratoga ini membukukan net buy asing Rp12,77 miliar di pasar reguler, atau mencapai Rp365,23 miliar secara YtD.
Sebaliknya, saham BRMS per Jumat (13/2) hanya naik 0,93% ke Rp1.080, bahkan koreksi 1,82% secara YtD. Walau mengecil sejak awal tahun, net buy asing di pasar reguler secara YtD menyentuh angka Rp949,68 miliar, atau Rp16,29 miliar pada perdagangan Jumat (13/2/2026).
: Harga Emas di Pasar Spot saat Imlek 17 Februari 2026 Redup, di Bawah US$4.900
Merdeka Copper Gold Tbk. – TradingView
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan BRMS sebenarnya cukup menjanjikan jika melihat rencana ekspansi perusahaan dalam tiga tahun ke depan.
Seperti diketahui, BRMS menargetkan pada semester kedua 2027 mulai mengoperasikan tambang emas bawah tanah di Blok Poboya Palu. Dengan kadar emas tinggi mencapai 3,5 sampai 4,9 gram per ton, diharapkan kenaikan produksi emas bakal dinikmati mulai akhir 2027 atau awal 2028.
: : Emiten Kongsi Grup Salim-Bakrie BRMS Targetkan Produksi Emas 80.000 Ons pada 2026
Miftahul mengatakan volume produksi emas BRMS bisa naik signifikan dan mendorong kinerja pendapatan perseroan. Apalagi, harga emas global masih berada di level tertingginya di kisaran US$5.000 per oz.
“Tapi di sisi lain, ini memang fase krusial karena perusahaan membawa pinjaman sindikasi yang cukup besar untuk ekspansi, sehingga kunci utamanya ada di kelancaran proyek dan kemampuan menjaga arus kas agar tetap sehat,” kata Miftahul kepada Bisnis, Senin (17/2/2026).
: : Rumor Penyegelan Konsesi Tambang Emas BRMS di Palu, Manajemen Buka Suara
Adapun, untuk ongkos ekspansi yang dilakukan perseroan, BRMS melaporkan telah memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi jangka panjang senilai US$625 juta.
Pendanaan ini akan digunakan untuk mendukung ekspansi kapasitas pengolahan emas di Palu dari 500 ton menjadi 2.000 ton per hari pada kuartal IV 2026, penyelesaian tambang emas bawah tanah berkadar tinggi pada 2027, serta kelanjutan kegiatan eksplorasi emas, perak, dan tembaga di sejumlah wilayah utama.
“Untuk harga saham yang belum banyak diapresiasi, menurut kami pasar masih menunggu bukti realisasi investor ingin melihat produksi benar benar naik dan laba ikut tumbuh sebelum memberi valuasi lebih tinggi. Jadi, kami lihat sentimen ke depan akan sangat ditentukan oleh progres ekspansi dan konsistensi kinerja. BRMS [rekomendasinya] wait and see,” tandasnya.
Bumi Resources Minerals Tbk. – TradingView
Menilik kinerja operasional BRMS, perseroan sukses menggenjot pertumbuhan produksi emas secara signifikan sejak 2020. Saat itu, produksi emas BRMS baru mencapai 2.271 oz, kemudian meningkat menjadi 23.270 oz pada 2023 dan 64.983 oz pada 2024.
Direktur BRMS Herwin Wahyu Hidayat menjelaskan, produksi emas BRMS pada 2024 mencapai 64.000 oz dan pada 2025 mencapai 70.000 sampai 72.000 oz emas. Tahun ini, produksi emas perseroan ditargetkan akan tumbuh sejalan dengan peningkatan produksi emas di anak usahanya, PT CPM.
“Di tahun 2026 salah satu pabrik emas kami di Palu akan ditingkatkan kapasitasnya dari 500 ke 2.000 ton bijih per hari. Target produksi emas BRMS di 2026 adalah sekitar 80.000 oz emas,” ujar Herwin kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).
Sementara bagi MDKA, perseroan saat ini tengah mempercepat konstruksi fasilitas pengolahan carbon in leac (CIL) di Tambang Emas Pani, yang semula akan dilakukan pada 2027 dan mulai beroperasi pada 2029, dimajukan untuk dikerjakan pada 2026 dan beroperasi 2028.
Sejalan dengan percepatan itu, target produksi puncak di konsensi Tambang Emas Pani sebesar 500.000 ounce yang semula dicanangkan akan dicapai pada 2033 diproyeksi bisa terealisasi lebih cepat.
GM Corporate Communication MDKA Tom Malik menjelaskan rencana alokasi capital expenditure (capex) perseroan juga disesuaikan sejalan dengan ekspansi yang dilakukan lebih dini itu.
Dalam Feasibility Study (FS) Tambang Emas Pani, sustaining capex atau belanja modal tahunan yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasi Tambang Emas Pani tetap berjalan untuk proyek heap leach, dibutuhkan capex per tahunnya US$1,4 juta sampai US$3,4 juta dari tahap pra produksi sampai 2028. Sementara, untuk proyek CIL membutuhkan capex US$2,9 sampai US$15,2 juta per tahun dari fase pre produksi sampai 2033.
FS yang disusun MDKA dua tahun lalu masih mengacu pada harga emas global yang masih di sekitar US$1.800 sampai US$2.000 per ounce. Saat ini, harga emas di pasar spot (XAU) telah menembus level US$5.000 per ounce.
“Dengan ini [kenaikan harga emas] akhirnya masuk akal, cash flow di depan lebih tinggi sehingga mampu modali ekspansi berikutnya,” ujar Tom kepada Bisnis.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.