
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan hari ini, Senin (18/5), dengan penurunan lebih dari 4 persen. Berdasarkan data perdagangan RTI Business saat sesi I, IHSG tercatat anjlok 288,024 poin atau 4,28 persen ke level 6.435,295.
Pjs Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan pelemahan IHSG masih sejalan dengan koreksi yang juga terjadi di pasar saham global, khususnya Asia.
Kalau IHSG hari ini tentu kalau kita cermati memang ketidakpastian di pasar kita masih cukup tinggi,” ujar Jeffrey, kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (18/5).
Kata Jeffrey, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi akumulasi koreksi pasar global selama libur perdagangan Bursa pada Kamis (14/5) dan Jumat (15/5) pekan lalu.
“Tetapi kita juga melihat bahwa hari Kamis dan Jumat pasar kita libur. Nah, di masa kita libur itu pasar global khususnya pasar Asia itu juga mengalami koreksi,” katanya.
Jeffrey menjelaskan jika akumulasi pelemahan pasar global selama dua hari tersebut digabungkan dengan koreksi tambahan pada perdagangan hari ini, maka penurunan IHSG dinilai masih bergerak searah dengan pasar global.
“Jadi saya rasa masih inline dengan global market, tetapi memang ketidakpastian di pasar kita itu masih cukup tinggi,” lanjut Jeffrey.

Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, Jeffrey mengingatkan investor agar tak mengambil keputusan secara emosional dan tetap memperhatikan fundamental perusahaan sebelum berinvestasi.
“Tidak panik, menganalisis secara cermat, mengatur strategi berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing. Karena kondisi pasar sangat dinamis, ketidakpastiannya masih cukup tinggi,” ungkap Jeffrey.
Aksi Jual Investor Asing
Jeffrey juga menanggapi derasnya aksi jual investor asing di pasar saham domestik. Menurut dia, pergerakan investor asing memang sangat dipengaruhi berbagai faktor global maupun domestik.
“Kalau investor asing tentu dari waktu ke waktu memang masuk dari dua hal dengan segala pertimbangannya,” ujarnya.
Meski demikian, BEI mengeklaim terus melakukan berbagai upaya agar investor asing tetap tertarik masuk dan bertahan di pasar modal RI dalam jangka panjang.
“Tentu kita melakukan upaya terbaik agar investor asing akan terus masuk dan untuk jangka panjang tetap stay dan berpartisipasi di pasar kita,” kata Jeffrey.
Di sisi lain, dia menilai pertumbuhan investor domestik menjadi salah satu penopang penting pasar modal Indonesia di tengah tekanan global. Per Rabu (13/5), jumlah investor pasar modal Indonesia disebut sudah menembus 27 juta investor.
“Nah tentu didukung dengan pertumbuhan investor retail kita yang mana per hari Rabu kemarin jumlah investor pasar modal kita sudah menembus angka 27 juta,” ujarnya.
Dari total 27 juta investor pasar modal di Indonesia, sekitar 9,7 juta di antaranya merupakan investor saham, sedangkan sisanya didominasi investor reksadana.
Selain investor ritel, Jeffrey berharap partisipasi investor institusi domestik juga terus meningkat agar pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam dan stabil.
“Jadi apa yang kita lakukan sekarang, upaya-upaya yang dengan sangat serius kita lakukan sekarang adalah untuk upaya perbaikan jangka panjang dari pasar kita,” ujar Jeffrey.