
Ifonti.com – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memastikan ketahanan industri perbankan nasional tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kondisi perbankan masih solid, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan yang kuat, serta risiko kredit yang terjaga.
“Ketahanan perbankan tetap kuat dan mampu memitigasi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan gejolak global,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat tinggi sebesar 25,87% pada Januari 2026. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap rendah, masing-masing 2,14% secara bruto dan 0,82% secara neto.
BI Mencatat Penyaluran Kredit pada Februari 2026 Tumbuh 9,36%
Perry bilang hasil uji ketahanan (stress test) Bank Indonesia juga menunjukkan sektor perbankan tetap resilien, didukung kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang masih terjaga.
Di tengah kondisi tersebut, fungsi intermediasi perbankan juga terus berjalan. Kredit perbankan pada Februari 2026 tumbuh 9,37% secara tahunan (year on year/yoy), meski sedikit melambat dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 9,96% yoy.
Pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh seluruh segmen, terutama kredit investasi yang tumbuh 20,7% yoy. Adapun kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh 3,88% yoy dan 6,3% yoy.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada di kisaran 8%–12%, dengan dukungan dari sisi permintaan dan penawaran.
Dari sisi permintaan, ruang ekspansi masih terbuka lebar, terutama melalui optimalisasi fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) yang mencapai Rp 2.536,4 triliun atau 22,86% dari total plafon kredit.
Sementara dari sisi penawaran, kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit tetap memadai. Hal ini tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,4%, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 13,18% yoy pada Februari 2026.
Bank Maspion (BMAS) Ambil Pinjaman US$ 285 Juta untuk Tambah Likuiditas
Perry juga menyebutkan bahwa standar penyaluran kredit masih relatif longgar, meski terdapat pengetatan pada segmen konsumsi dan UMKM akibat risiko yang masih tinggi.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan kredit sekaligus stabilitas sistem keuangan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial serta koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Selain itu, BI juga mendorong pengembangan sumber pendanaan alternatif di luar dana pihak ketiga guna memperkuat kapasitas pembiayaan perbankan.
“Sinergi kebijakan akan terus diperkuat untuk memitigasi dampak ketidakpastian global dan menjaga stabilitas sistem keuangan,” sebut Perry.