BI tahan suku bunga, IHSG berpotensi rebound terbatas di tengah sentimen wait and see

Ifonti.com JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16–17 Maret 2026.

Keputusan ini mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter di tengah dinamika pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sebelumnya, rupiah sempat melemah di kisaran Rp16.850–Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani, menilai kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase wait and see. Investor cenderung menahan diri sambil mencermati arah kebijakan moneter ke depan.

IHSG Menguat 1,2% Menjadi 7.106,84, Analis Sebut Belum Sinyal Bullish Penuh

Di tengah keputusan BI yang menahan suku bunga, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan cenderung netral dengan potensi penguatan terbatas. Pelaku pasar kini menanti sinyal lanjutan dari Gubernur BI, khususnya terkait peluang penurunan suku bunga pada kuartal II-2026.

“Jika BI memberikan sinyal yang lebih dovish atau membuka peluang penurunan suku bunga hingga 4,25% pada akhir tahun, maka pasar saham berpotensi menguat secara bertahap,” ujarnya kepada Kontan. Selasa (17/3/2026).

IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Rebound Terbatas

Secara teknikal, IHSG sempat dibuka menguat (gap up), namun gagal menembus area resistance di kisaran 7.135–7.150. Hal ini menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat di pasar.

Pola serupa juga terjadi pada awal Maret, di mana penguatan di awal sesi tidak berlanjut dan berakhir dengan koreksi. Dari sisi indikator, MACD memang menunjukkan golden cross di area negatif—mengindikasikan peluang rebound teknikal.

Namun demikian, sinyal tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Kenaikan indeks sejauh ini juga lebih banyak ditopang oleh saham sektor energi dengan volume perdagangan yang relatif rendah, menandakan partisipasi pasar masih terbatas.

Kinerja INCO 2025 Moncer, Laba Bersih Melonjak 31,68% di Tengah Tekanan Operasional

Selama IHSG belum mampu menembus level 7.150, pergerakan indeks diperkirakan masih berada dalam fase rebound terbatas dengan potensi kembali tertekan.

Chory mengungkapkan level teknikal penting IHSG sebagai berikut:

  • Support: 7.000 – 6.950
  • Resistance: 7.135 – 7.150
  • Target rebound lanjutan: 7.200 – 7.250 (jika tembus 7.150)

“Dengan kondisi tersebut, IHSG masih berada dalam tren turun dengan peluang rebound jangka pendek, namun belum terdapat konfirmasi pembalikan arah yang kuat,” ucapnya.

Arus Dana Asing Masih Sensitif

Chory menambahkan, kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan daya tarik aset domestik di mata investor global, terutama melalui mekanisme yield spread.

Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi faktor krusial. Selama BI mampu menjaga stabilitas melalui instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), arus dana asing diperkirakan tetap bertahan di pasar domestik.

Selain itu, jika BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% sementara bank sentral global mulai melonggarkan kebijakan moneter, maka aset Indonesia—baik saham maupun obligasi—akan semakin kompetitif.

BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Berpotensi Sideways di Tengah Tekanan Global

Namun, risiko tetap membayangi. Lonjakan inflasi domestik, terutama akibat peningkatan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri, berpotensi memicu aksi jual investor asing jika respons kebijakan dinilai terlambat. Saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, menjadi yang paling rentan terdampak.

Rekomendasi Saham Pilihan

Berdasarkan kondisi fundamental dan sentimen pasar saat ini, berikut sejumlah saham yang direkomendasikan:

  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA) — Buy, target harga Rp3.100
  • PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) — Buy, target harga Rp27.300
  • PT Mayora Indah Tbk (MYOR) — Buy, target harga Rp2.700
  • PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) — Buy, target harga Rp11.500
  • PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) — Buy, target harga Rp325
  • PT Jasa Marga Persero Tbk (JSMR) — Buy, target harga Rp4.750

Dengan berbagai sentimen yang berkembang, pelaku pasar disarankan tetap mencermati arah kebijakan moneter dan dinamika global sebagai faktor utama penggerak pasar dalam jangka pendek.