Bitcoin kembali ke US$65.000, tapi catat penurunan mingguan terbesar sejak akhir 2022

Ifonti.com  Bitcoin kembali menembus level US$65.000 pada Jumat (6/2/2026), seiring gejolak di pasar saham teknologi global yang sempat menghapus banyak posisi berisiko mulai menunjukkan tanda perlambatan.

Meski begitu, Bitcoin tetap menghadapi penurunan mingguan terburuk sejak akhir 2022, karena kripto masih berjuang setelah crash besar pada Oktober lalu yang menjatuhkan harga dari rekor tertinggi, sekaligus menurunkan sentimen investor terhadap aset digital.

Tekanan Asing & Sentimen Global Buat IHSG Ambles 4,73% Sepekan, Ini Kata Analis

Pada Jumat sore, Bitcoin naik 4,4% menjadi US$65.894,20, memulihkan sebagian kerugian setelah sebelumnya sempat turun 5% ke level US$60.008,52.

Sepanjang pekan ini, harga Bitcoin sudah merosot hampir 14%, penurunan mingguan terbesar sejak November 2022, dan masih berada di level terlemah sejak awal Oktober 2024.

“Bitcoin sudah turun sejak Oktober 2025, mungkin ini pertanda awal masalah atau sekadar kebetulan,” kata Chris Weston, Kepala Riset di broker Pepperstone, Melbourne.

“Banyak posisi besar yang ramai ditutup dengan sangat cepat.”

Ether juga bergerak serupa, naik 4% ke US$1.921 setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah hampir 10 bulan di US$1.751,94.

Harga Bitcoin Anjlok 28% dalam Sebulan: Waspada Jebol Level Support Krusial!

Ether diperkirakan mencatat penurunan mingguan hampir 16% dan turun 35% year-to-date (YTD).

Pasar kripto global telah kehilangan sekitar $2 triliun sejak puncaknya di awal Oktober 2025, menurut data CoinGecko, dengan lebih dari $1 triliun hilang hanya dalam sebulan terakhir.

Sentimen pasar kripto juga terpengaruh oleh aksi jual emas dan perak, yang menjadi lebih volatil akibat pembelian leverage dan arus spekulatif.

Harga Bitcoin cenderung terkait dengan sektor teknologi secara lebih luas, terutama dipengaruhi antusiasme investor terhadap kecerdasan buatan (AI).

“Bitcoin yang kembali mendekati US$60.000 bukan berarti kripto mati, melainkan efek dari penyesuaian bagi Treasury dan dana yang memperlakukan Bitcoin sebagai aset satu arah tanpa kontrol risiko,” kata Joshua Chu, Co-Chair Hong Kong Web3 Association.

“Mereka yang bertaruh terlalu besar, meminjam terlalu banyak, atau mengira harga hanya naik, kini merasakan kerasnya volatilitas pasar dan pentingnya manajemen risiko.”

OJK Optimistis Target Penghimpunan Dana Pasar Modal Rp 250 Triliun Tercapai pada 2026

Menurut analis Deutsche Bank, ETF Bitcoin spot AS mencatat outflow lebih dari US$3 miliar pada Januari, setelah sebelumnya mengalami outflow sekitar US$2 miliar dan $7 miliar pada Desember dan November 2025.

“Februari sejauh ini belum berjalan baik bagi para bulls pasar saham. Kita harus melihat apakah pemulihan Bitcoin di atas US$65.000 menjadi tanda pemulihan lebih dalam di depan,” kata Kathleen Brooks, Direktur Riset XTB.