Bitcoin tembus US$81.000, sinyal akhir koreksi terlihat di tengah tekanan inflasi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga Bitcoin kembali menguat dan menembus level US$ 81.000 pada Selasa (5/5) di tengah lonjakan inflasi energi global dan domestik. Kenaikan ini memicu optimisme pasar, meskipun konfirmasi tren bullish masih belum sepenuhnya solid.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menyebut Bitcoin mencatat tonggak penting dengan menembus US$ 81.000 untuk pertama kalinya sejak akhir Januari 2026. 

Kenaikan ini mencerminkan pemulihan sekitar 35% dari titik terendah siklus di US$ 62.000 pada Februari 2026 sekaligus mengakhiri fase koreksi selama tujuh bulan sejak menyentuh all-time high US$126.000 pada September 2025.

Bitcoin Tembus US$ 80.000, Didorong Arus ETF dan Sentimen Global

Secara teknikal, pergerakan ini dinilai signifikan karena Bitcoin berhasil kembali ke area bull market support band, yang sebelumnya menjadi batas pemulihan harga dalam beberapa bulan terakhir.

Ia juga menyoroti indikator teknikal penting yang jarang terjadi.

“RSI mingguan Bitcoin sempat menyentuh level 27,48 pada Maret 2026, hanya tiga kali terjadi sepanjang sejarah Bitcoin. Dua kejadian sebelumnya, pada 2015 dan 2018, menandai generational cycle bottom atau titik bawah siklus terdalam. Ini bukan sekadar angka teknikal biasa,” tulis Fahmi dalam rilis resmi, Selasa (5/5/2026).

Dari sisi permintaan, arus dana institusi juga menunjukkan penguatan. 

ETF Bitcoin spot mencatat inflow sebesar US$1,97 miliar sepanjang April 2026. Selain itu, investor institusional seperti Strategy dan Bitmine disebut terus meningkatkan akumulasi aset kripto dalam beberapa pekan terakhir.

GOTO Akui Dimiliki Danantara, Segini Porsi Kepemilikannya!

Momentum kenaikan Bitcoin terjadi di tengah tekanan inflasi energi yang meningkat di dalam negeri. 

Sejak 4 Mei 2026, harga Pertamina Dex naik dari Rp 23.900 menjadi Rp 27.900 per liter, sementara Dexlite naik dari Rp 23.600 menjadi Rp 26.000 per liter.

Di sektor penerbangan, harga avtur domestik di Bandara Soekarno-Hatta naik 16,16% menjadi Rp27.358 per liter pada Mei 2026, sementara avtur internasional meningkat hingga 21%. Kenaikan ini mendorong maskapai menyesuaikan tarif tiket.

Tekanan inflasi tersebut dipicu oleh Indonesian Crude Price (ICP) yang berada di kisaran US$82–85 per barel, ditambah pelemahan rupiah dan ketegangan geopolitik global yang mengganggu distribusi energi.

Menurut Fahmi, kondisi ini memperkuat daya tarik aset kripto sebagai lindung nilai.

Berada di Fase Transisi, Pendapatan TOBA Melesat 20,5%, Rugi Menyusut Tajam

“Ketika daya beli rupiah tergerus inflasi yang sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan bisnis, relevansi Bitcoin dan Ethereum sebagai aset inflation hedge dan store of value semakin nyata bagi investor Indonesia,” kata Fahmi.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sinyal bullish belum sepenuhnya terkonfirmasi. 

Data on-chain menunjukkan jumlah dompet aktif Bitcoin masih rendah, sekitar 531.000 per hari, mendekati level terendah dalam dua tahun terakhir.

“Konfirmasi bullish yang sesungguhnya kemungkinan baru akan terjadi jika Bitcoin mampu bertahan secara konsisten di atas US$82.000-85.000 yang akan membuka jalur menuju US$90.000 dan selanjutnya US$100.000. Untuk saat ini, optimisme perlu diimbangi dengan kehati-hatian,” ujar Fahmi.