Bursa Asia mayoritas melemah Senin (19/1), cermati isu Greenland & data China

Ifonti.com  Pasar saham Asia-Pasifik mayoritas melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026), seiring investor mencermati perkembangan terbaru terkait Greenland serta menanti rilis data ekonomi utama dari China.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 memimpin pelemahan di Asia dengan penurunan 0,85%, sementara Topix terkoreksi 0,46%.

Pasar saham Korea Selatan bergerak berlawanan arah dengan kawasan, di mana indeks Kospi naik 0,18%. Namun, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melemah 0,15%.

Cek Rekomendasi Saham INKP, ISAT, ITMG, JPFA dan KLBF untuk Senin (19/1)

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka turun 0,19%.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 26.640, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks tersebut di 26.844,96.

Akhir pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlibat adu pernyataan dengan para pemimpin Eropa terkait wilayah Arktik tersebut.

Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa dan menuntut kendali atas Greenland, yang merupakan wilayah otonom Denmark.

Para pemimpin Eropa menanggapi keras ancaman tersebut dengan menyebutnya sebagai tindakan yang “sepenuhnya keliru” dan “tidak dapat diterima”.

Di kawasan Asia, perhatian investor juga tertuju pada China yang dijadwalkan merilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal IV, serta data penjualan ritel, investasi aset tetap perkotaan, dan produksi industri untuk periode Desember.

Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas untuk Perdagangan Senin (19/1)

Di Wall Street pada perdagangan Jumat (waktu setempat), indeks S&P 500 ditutup nyaris stagnan dan mencatatkan kinerja mingguan negatif. Nasdaq Composite turun tipis 0,06%, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,17%.

Ketiga indeks utama AS sempat menyentuh level terendah sesi setelah Trump menyatakan di Gedung Putih bahwa ia lebih memilih Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett tetap berada di posisinya saat ini, serta mengindikasikan bahwa Hassett mungkin tidak dipilih sebagai ketua Federal Reserve berikutnya.

Selama ini, Hassett dipandang pelaku pasar sebagai kandidat yang lebih ramah pasar untuk menggantikan Ketua The Fed saat ini, dibandingkan kandidat terdepan lainnya, mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, karena dinilai lebih terbuka terhadap kebijakan suku bunga rendah.