
Ifonti.com – JAKARTA. Berdasarkan data OJK, total dana kelolaan reksadana mencapai Rp 679,18 triliun per Desember 2025. Jumlah ini meningkat 35,04 secara year on year (yoy).
Freddy Tedja, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, pada tahun 2026, prospek produk reksadana masih berpeluang untuk terus tumbuh ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berpotensi membaik pada 2026. Hal ini didukung kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah dan Bank Indonesia yang sudah diimplementasikan sejak akhir 2024.
“Dengan outlook ekonomi yang membaik, diharapkan daya tarik investor pada instrumen reksadana juga akan terus membaik,” ujar Freddy kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).
Dinilai Masih Murah, Saham Astra Otoparts (AUTO) Diproyeksi Tembus Rp 3.200
Selain itu, seiring dengan turunnya BI Rate dan suku bunga deposito perbankan, Freddy melihat peluang bahwa masyarakat akan mulai mencari alternatif instrumen investasi yang dapat menawarkan potensi imbal hasil lebih menarik. Menurutnya, dari sisi domestik, iklim dan sentimen dunia investasi, termasuk reksadana akan dipengaruhi oleh kondisi aktivitas ekonomi.
“Peningkatan aktivitas dan pertumbuhan ekonomi sendiri akan sangat bergantung pada implementasi kebijakan pemerintah, dalam hal ini adalah akselerasi realisasi belanja,” ucap dia.
Freddy menyebut, peran belanja negara di 2026 cukup krusial bagi pemulihan ekonomi, sebab realisasi yang lambat dapat menunda siklus pemulihan ekonomi. Di lain pihak, keleluasaan belanja negara juga akan sangat bergantung dari penerimaan negara. Jika hal-hal tersebut bisa dipulihkan maka keyakinan investor akan mulai tumbuh, di mana ketidakpastian iklim investasi domestik mulai berkurang dan kebijakan pemerintah dapat memengaruhi investasi asing di sektor riil.
Setelah itu, pemulihan keyakinan investor diharapkan terus membaik dan minat investor asing kembali meningkat.
“Jadi, tiga hal tersebut saling terkait satu sama lain, akselerasi belanja, keleluasaan ruang fiskal, dan pemulihan keyakinan investor,” ucap Freddy.
Sementara dari sisi global, Freddy melihat sentimen akan dipengaruhi oleh situasi geopolitik dunia, dan arah kebijakan moneter negara maju, terutama Amerika Serikat.
Sementara itu, Direktur Investasi PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Stefanus Winarto melihat prospek reksadana pada tahun 2026 tetap atraktif, meskipun dinamika pasar diperkirakan lebih fluktuatif, seiring dengan proyeksi Bank Indonesia (BI) terhadap potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Di tengah kondisi global tersebut, fundamental domestik masih relatif terjaga, dengan inflasi yang terkendali serta ruang kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Hal ini memberi dukungan bagi kinerja aset keuangan, khususnya obligasi dan saham, yang menjadi underlying reksa dana.
Selain itu, industri reksadana di Indonesia menunjukkan pertumbuhan total dana kelolaaan (Assets Under Management/AUM) yang solid, naik 35,0% YoY menjadi Rp679,2 triliun per Desember 2025 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seiring meningkatnya partisipasi investor ritel.
“Hal ini sekaligus menegaskan bahwa reksadana menjadi pilihan investasi yang diminati investor di tengah kondisi pasar yang dinamis,” ucap Stefanus kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).
Rupiah Spot Melemah 0,06% ke Rp 16.790 per Dolar AS pada Kamis (8/1) Siang