Diversifikasi bisnis, simak rekomendasi saham Indo Tambangraya (ITMG)

Ifonti.com – JAKARTA. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melakukan diversifikasi bisnis untuk menopang kinerja.

Maklum, ITMG mencatatkan penurunan kinerja per kuartal III 2025 silam. Diversifikasi bisnis diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja ITMG ke depan. 

ITMG mengantongi pendapatan sebesar US$ 1,37 miliar per kuartal III 2025, menurun 17% year on year (yoy). Laba bersih ITMG juga terkoreksi 52% yoy menjadi US$ 131 juta per kuartal III 2025. 

Arief Machrus, Kepala Riset Ina Sekuritas menyampaikan, pasar batubara Indonesia semakin ketat menjelang tahun 2026 karena langkah-langkah kebijakan semakin membatasi pasokan. Rencana pungutan ekspor sebesar 1% sampai 5% mulai tahun fiskal 2026 dapat menghasilkan sekitar Rp 20 triliun (US$ 1,2 miliar) per tahun. 

Ia mencatat produksi batubara menurun sekitar 8% yoy menjadi 585 metrik ton (Mt) pada sembilan bulan tahun 2025, dibandingkan 836,1 Mt pada sembilan bulan tahun 2024. Sementara ekspor turun sekitar 5% yoy menjadi 285 Mt. 

Diversifikasi ke Sektor Properti, Samindo Resources (MYOH) Dirikan Perusahaan Baru

Total produksi diperkirakan akan turun di bawah 700 metrik ton (Mt) pada tahun fiskal 2026, dibandingkan target 735 Mt – 740 Mt yang awalnya dibahas untuk tahun 2025. Meskipun permintaan domestik tetap kuat di sekitar 200 Mt – 250 Mt, naik 8% dari target tahun fiskal 2025 sebesar 229,3 Mt. Permintaan dari Asia terus menyumbang lebih dari 60% dari konsumsi global.

“Bagi ITMG, kondisi jangka pendek tetap menantang, sementara prospek jangka panjang secara bertahap membaik. Seiring pulihnya harga batubara menjelang tahun penuh 2026, pendapatan diperkirakan akan kembali normal,” ujar Arief dalam risetnya pada 8 Januari 2026.

Diversfifikasi

Sementara itu, Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas Asia melihat, ITMG mulai memajukan strategi diversifikasinya melalui perluasan energi terbarukan dan paparan selektif pada rantai nilai nikel.

Hingga kuartal III 2025, kapasitas energi terbarukan berbasis surya yang dikontrak ITMG secara kumulatif mencapai 102 Megawatt-peak (MWp), naik 13% secara kuartalan (QoQ). Ini menggarisbawahi meningkatnya permintaan akan energi rendah karbon di seluruh operasinya dan klien eksternal. 

Secara paralel, ITMG mengakuisisi 585 juta saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) senilai Rp 256,23 miliar dengan harga Rp 438 per saham, memberikan ITMG kepemilikan saham minoritas sebesar 9,62%.

“Perusahaan mengklarifikasi bahwa pembelian tersebut merupakan investasi langsung, non-pengendalian, dan bukan repo, yang dimaksudkan untuk mengamankan paparan strategis jangka panjang terhadap sektor nikel Indonesia sebagai bagian dari pergeseran yang lebih luas menuju aset yang selaras dengan transisi energi,” jelas Rizal dalam risetnya pada 12 Desember 2025. 

Produksi Batubara RI Dipangkas, Begini Prospek Indo Tambangraya Megah (ITMG)

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, strategi diversifikasi ini memberikan dampak positif jangka panjang dengan mengurangi risiko ketergantungan pada pendapatan komoditas batubara tunggal dan memperkuat ketahanan bisnis ITMG dalam menghadapi transisi energi global. 

Investasi strategis pada 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) di sektor nikel serta akuisisi mayoritas perusahaan jasa tenaga surya Suryanesia memungkinkan ITMG untuk menangkap peluang di ekosistem kendaraan listrik dan pendapatan berulang dari energi bersih. 

“Didukung oleh posisi kas bersih yang sangat solid mencapai US$ 1,1 miliar, langkah dekarbonisasi ini tidak hanya menciptakan mesin pertumbuhan baru tetapi juga berpotensi meningkatkan penilaian profil ESG perseroan di mata investor institusional,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (26/1/2026). 

Prospek Stabil

Abida menambahkan, prospek kinerja ITMG pada awal tahun 2026 diproyeksikan tetap stabil dengan peluang pemulihan laba bersih tahunan sebesar 6,2% menjadi US$ 296 juta.

Meskipun berada di tengah kebijakan pemangkasan target produksi nasional menjadi 600 juta ton, ITMG memiliki keunggulan operasional berupa disiplin biaya yang kuat dengan target penurunan biaya tunai (cash cost) hingga US$ 43,7 per ton melalui optimalisasi strip ratio ke level 8,8x. 

“Keberlangsungan operasional pada kuartal pertama juga tetap terjaga melalui kebijakan pemerintah yang mengizinkan penambangan sementara sebesar 25% dari rencana produksi tahunan hingga 31 Maret 2026 sambil menunggu persetujuan RKAB definitif,” terang Abida. 

Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Indo Tambangraya (ITMG) di Tengah Tant

Arief memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ITMG tahun 2025 masing-masing dapat mencapai US$ 1,92 miliar dan US$ 202,3 juta. Pendapatan dan laba bersih ITMG tahun 2026 diproyeksi mencapai US$ 1,93 miliar dan US$ 199,9 juta. Adapun pada tahun 2024, ITMG mengantongi pendapatan US$ 2,30 miliar dan laba bersih US$ 374,1 juta. 

Rizal dan Abida merekomendasikan buy saham ITMG dengan target harga masing-masing Rp 24.300 per saham dan Rp 27.300 per saham. Rekomendasi berada pada posisi buy dengan fokus utama sebagai instrumen dividen (dividend play). 

Sementara Arief merekomendasikan netral saham ITMG dengan target harga Rp 24.350 per saham. Adapun, risiko utama yang perlu dicermati adalah harga batubara yang lebih lemah dari perkiraan, perubahan regulasi terkait produksi atau royalti, dan kenaikan biaya bahan bakar atau jasa pertambangan yang dapat mengikis margin keuntungan.

  ITMG Chart by TradingView