Emiten unggas berpeluang cuan di musim Ramadan, simak rekomendasi sahamnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham-saham emiten sektor perunggasan diperkirakan akan mendapat sentimen positif seiring momentum Ramadan dan Lebaran 2026. Momentum musiman ini berpotensi menjadi katalis yang mendongkrak kinerja perusahaan.

Analis Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai periode Ramadan hingga Lebaran secara historis mendorong kenaikan permintaan daging ayam dan day old chick (DOC). Kondisi tersebut umumnya berimbas pada peningkatan volume penjualan emiten unggas sekitar 5%–15% dibandingkan bulan-bulan normal.

“Meski demikian, realisasi kenaikan kinerja tetap sangat dipengaruhi oleh stabilitas harga ayam hidup (live bird) serta daya beli masyarakat selama periode tersebut,” kata Azis kepada Kontan, Senin (23/2/2026).

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Selasa (24/2), Simak Rekomendasi Sahamnya

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengamini efek Ramadan dan Lebaran tahun ini bisa jadi katalis positif kuat. 

Menurutnya, secara historis kenaikan permintaan ayam dari sektor rumah tangga dan hotel restoran serta cafe bisa mendorong volume penjualan naik 15%-20% dibandingkan bulan lainnya. 

“Harga Jual Rata-Rata (Average Selling Price) juga biasanya ikut naik. Belum lagi ada stimulus pemerintah dan Tunjangan Hari Raya yang mendorong daya beli masyarakat,” ucap Wafi.

Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyoroti kenaikan volume penjualan emiten unggas sangat bergantung pada keseimbangan suplai di pasar dan stabilitas harga ayam hidup di level peternak.

Disamping itu, Abida berpendapat periode Ramadan kerap menjadi katalis jangka pendek bagi saham unggas. Alasannya, pasar mengantisipasi perbaikan pendapatan dan margin. 

“Namun, dampaknya terhadap harga saham tetap dipengaruhi faktor lain seperti fluktuasi harga jagung dan soybean meal sebagai bahan baku pakan, serta kebijakan intervensi harga dari pemerintah,” ujar Abida.

Wafi juga menilai untuk jangka panjang prospek sektor unggas masih menjanjikan karena tingkat konsumsi daging unggas per kapita masyarakat Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara tetangga. Ini yang membuat ruang pertumbuhannya masih panjang. 

Laba Astra Agro (AALI) Naik 28% di 2025, Begini Rekomendasi Sahamnya

Akan tetapi, tantangan strukturalnya ada di volatilitas harga bahan baku pakan. “Jadi saya lebih menyarankan pemain besar yang terintegrasi vertikal dari hulu ke hilir, seperti CPIN dan JPFA. MAIN bisa menjadi alternatif turnaround, sementara WMUU, SIPD, dan AYAM punya profil risiko yang jauh lebih tinggi dan likuiditas yang lebih menantang,” tambah Wafi.

Adapun Azis melihat emiten unggas masih memiliki prospek yang menarik mengingat anggaran Makanan Bergizi Gratis ditambah serta adanya investasi Danantara di sektor unggas ini menjadi cerminan bahwa pemerintah juga serius dalam mendorong pertumbuhan sektor unggas. 

Azis merekomendasikan buy untuk JPFA dengan target harga Rp 3.110 per saham.

Sementara itu, Abida menilai sektor unggas masih layak dicermati dengan pendekatan selektif. Saham pilihan berada pada emiten berfundamental kuat dan struktur biaya efisien, dengan target harga CPIN Rp 5.600, JPFA Rp 3.100, dan MAIN Rp 1.500. 

Adapun Wafi menyarankan untuk investor mencermati saham CPIN di target harga Rp 5.600, lalu JPFA Rp 2.900 dan MAIN Rp 800 per saham.