
Ifonti.com JAKARTA. Kombinasi antara rotasi sektoral dan ekspektasi fundamental cukup mempengaruhi kinerja indeks sektoral saham pada awal 2026.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Consumer Cyclicals menjadi indeks sektoral dengan kinerja terbaik pada awal tahun ini berkat pertumbuhan yang mencapai 14,38% year to date (ytd) ke level 1.402,672 hingga Kamis (15/1/2026).
Di belakangnya, ada IDX Basic Materials yang mencatatkan pertumbuhan 13,45% ytd ke level 2.334,930 dan IDX Industrials yang mampu tumbuh 12,82% ytd ke level 2.431,341.
Di sisi lain, IDX Technology yang pada 2025 lalu menjadi indeks sektoral saham terbaik sejauh tahun 2026 berjalan baru mampu mencetak pertumbuhan 2,45% ytd ke level 9.768,857 hingga Kamis lalu.
Kinerja IDX Financials juga masih lesu lantaran hanya tumbuh 0,43% ytd ke level 1.556,761. Begitu pula dengan IDX Consumer Non-Cyclicals yang baru mampu tumbuh 2,69% ytd ke level 821,259.
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (19/1), Ini Rekomendasi Analis
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, kinerja kuat yang ditunjukkan oleh sejumlah indeks sektoral seperti konsumer siklikal, barang material, hingga industrial lebih banyak didorong oleh faktor rotasi sektoral dan prospek fundamental sektor yang bersangkutan.
Dari sisi makro, para pelaku pasar mulai mengantisipasi penurunan suku bunga acuan global yang akan menguntungkan sektor-sektor berbasis aktivitas ekonomi riil, investasi, dan konsumsi.
Menurut David, sektor industrial dan barang material diuntungkan oleh ekspektasi belanja infrastruktur, proyek hilirisasi, serta perbaikan siklus komoditas tertentu. Adapun sektor konsumer siklikal terdorong oleh optimisme daya beli dan efek musiman awal tahun.
“Sebaliknya, sektor teknologi cenderung tertahan karena valuasi yang sudah tinggi,” tutur dia, Kamis (15/1/2026).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, pertumbuhan signifikan yang dicatat saham-saham sektor konsumer siklikal dipengaruhi oleh katalis positif dari lonjakan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 335 triliun untuk 2026.
Di samping itu, akselerasi kebijakan hilirisasi nasional melalui BPI Danantara mendorong optimisme pasar yang akhirnya berdampak positif bagi sektor industrial dan barang material.
Di sisi lain, kelesuan di sektor teknologi dan finansial terjadi akibat pengetatan likuiditas global serta aksi rebalancing portofolio investor asing yang mulai beralih ke sektor berbasis fisik dan komoditas yang menawarkan potensi pertumbuhan laba lebih tinggi.
“Fenomena ini bukan sekadar rotasi sektoral musiman seperti January Effect, melainkan cerminan dari ekspektasi perubahan fundamental struktural ekonomi Indonesia yang kini lebih berfokus pada penguatan industri manufaktur dan kemandirian rantai pasok domestik,” ungkap Abida, Kamis (15/1).
Abida melanjutkan, kinerja indeks sektoral pada masa mendatang diyakini tetap menjanjikan seiring dengan potensi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak menuju level 10.000 sepanjang 2026.
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (19/1), Ini Proyeksi Analis
Kendati sektor konsumer siklikal, barang material, dan industrial tetap punya prospek jangka panjang yang solid, kemungkinan besar rotasi sektoral ke sektor keuangan akan tetap terbuka mulai kuartal II-2026. Hal ini sejalan dengan rilis laporan keuangan tahunan, di mana bank-bank besar diprediksi membukukan rekor laba baru.
Di samping itu, pemicu utama rotasi sektoral tersebut meliputi realisasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI) dan The Fed, keberhasilan operasional tahap awal program MBG yang memberikan konfirmasi laba bagi emiten unggas, serta stabilitas nilai tukar rupiah.
“Selain itu, sektor telekomunikasi dan properti juga berpotensi mengejar ketertinggalannya karena mulai memasuki fase monetisasi data yang lebih menguntungkan dan perbaikan permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) akibat bunga yang lebih terjangkau,” jelas dia.
Sementara itu, David memperkirakan prospek indeks sektoral pada masa mendatang akan sangat dinamis dan berpotensi diwarnai rotasi lanjutan. Sektor industrial tentu masih berpeluang menjadi salah satu sektor yang outperformer selama realisasi proyek infrastruktur, manufaktur, dan investasi tetap solid.
Namun, seiring berjalannya waktu, sektor yang tertinggal seperti finansial bisa mulai mengejar jika ada katalis penurunan suku bunga yang lebih jelas, stabilisasi nilai tukar, serta perbaikan sentimen risiko global.
David menekankan, pemicu rotasi biasanya datang dari arah kebijakan moneter, perkembangan ekonomi domestik, realisasi kinerja emiten, serta perubahan outlook laba. “Artinya, kepemimpinan sektor tidak akan statis dan investor perlu adaptif,” imbuh dia.
Lebih lanjut, David menjelaskan bahwa saham-saham unggulan yang dapat menopang masing-masing indeks sektoral umumnya adalah emiten berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat dan eksposur langsung ke tema utama di sektornya.
Sebagai contoh, sektor konsumer siklikal biasanya ditopang oleh emiten ritel, otomotif, dan barang konsumsi tahan lama dengan merek kuat dan jaringan distribusi luas. Di sektor industrial, emiten terkait konstruksi, logistik, dan manufaktur berorientasi proyek dan ekspor cenderung menjadi motor penggerak indeks tersebut.
Adapun di sektor barang material, saham berbasis komoditas dengan struktur biaya efisien dan cadangan kuat akan menjadi penopang utama.
Menanti Data Inflasi AS dan BI Rate, IHSG Bergerak Konsolidasi Senin (19/1)
Dari situ, David merekomendasikan beli saham PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) dengan target harga di level Rp 1.600 per saham.
Di lain pihak, Abida menyarankan investor untuk menggunakan pendekatan analisis top-down dengan fokus pada emiten yang memiliki rekam jejak tata kelola perusahaan yang baik dan konsistensi dalam pembagian dividen.
Lantas, investor dapat mempertimbangkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga di kisaran Rp 10.800 per saham dan Rp 5.500 per saham. Kedua saham ini menjadi penopang sektor finansial berkat dominasi pasar dan efisiensi biaya dana yang kuat.
Abida juga menyebut, saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) dapat menjadi pilihan bagi investor di sektor industrial dan barang material dengan target harga masing-masing Rp 7.450 per saham dan Rp 32.000 per saham.
Investor juga dapat mempertimbangkan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 11.500 per saham. ICBP berpeluang jadi penopang utama di sektor konsumer.
Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) juga layak dipertimbangkan oleh investor seiring dampak positif dari program MBG. Target harga JPFA berada di kisaran Rp 3.100 per saham.