
Ifonti.com JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bersiap melakukan transformasi seiring arahan BPI Danantara yang menginginkan emiten pelat merah tersebut fokus pada bisnis midstream (antara) dan downstream (hilir) gas bumi.
Dalam pemberitaan sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyatakan, PGAS telah diminta untuk tidak lagi bermain di segmen bisnis upstream (hulu). Hal ini menjadi bagian dari transformasi fundamental yang tengah dilakukan Danantara terhadap BUMN-BUMN di sektor energi.
Danantara juga berharap PGAS akan bertransformasi menjadi perusahaan yang dapat menguasai rantai distribusi gas bumi hingga ke rumah tangga masyarakat.
Iman Rachman Mundur, OJK Pastikan Operasional BEI Tetap Normal
Bila merujuk laporan keuangan per kuartal III-2025, PGAS mampu membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 2,92 miliar yang didominasi dari segmen niaga dan transmisi gas senilai US$ 2,73 miliar. PGAS juga mencatat pendapatan eksplorasi dan produksi migas di sektor hulu senilai US$ 219,46 juta dan pendapatan operasi lainnya senilai US$ 254,09 juta. Emiten ini juga mencatat eliminasi sebanyak US$ 278,67 juta.
Fajriyah Usman, Corporate Secretary Perusahaan Gas Negara menyampaikan, pada prinsipnya arah strategis PGAS selalu disusun dan dijalankan sesuai dengan kebijakan dan persetujuan PT Pertamina (Persero) selaku induk usaha, serta memperhatikan dinamika kebijakan pemerintah dan pemangku kepentingan, termasuk Danantara.
Untuk saat ini, PGAS masih aktif melakukan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut terkait arahan transformasi bisnis tersebut yang berfokus pada segmen midstream dan downstream.
Dalam Sepekan, Rupiah Menguat 0,20% ke Rp 16.786 per Dolar AS
“Setiap langkah strategis tentu akan melalui kajian menyeluruh, baik dari sisi bisnis, operasional, maupun tata kelola perusahaan,” ujar dia, Jumat (30/1/2026).
Fajriyah menegaskan, prinsip utama PGAS adalah terus mendorong pembangunan dan pengembangan infrastruktur gas bumi nasional, yang mencakup jaringan pipa gas, fasilitas regasifikasi Liqefied Natural Gas (LNG), serta perluasan jaringan gas (jargas) rumah tangga. Seluruh upaya ini diarahkan untuk mendukung ketahanan dan swasembada energi nasional serta mengurangi laju impor energi.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat peran sebagai penyedia infrastruktur dan solusi gas bumi yang terintegrasi dengan fokus pada keandalan pasokan kepada pelanggan, efisiensi sistem, serta keberlanjutan bisnis jangka panjang,” jelasnya.
BEI Rombak Indeks LQ45, BREN Masuk Gantikan ACES Periode Februari–April 2026
Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, jika PGAS harus keluar dari bisnis hulu migas, maka emiten ini terancam kehilangan momentum peningkatan laba ketika harga komoditas minyak dan gas melonjak. Pendapatan PGAS pun berpotensi relatif flat meski hal ini cukup wajar lantaran karakteristik bisnis gas bumi yang mengandalkan kontrak jangka panjang sehingga sektor ini cukup defensif.
Peluang bagi PGAS untuk melakukan divestasi aset blok migas juga cukup terbuka apabila transformasi bisnis ini jadi dilaksanakan. Risiko tekanan terhadap kinerja keuangan dalam jangka pendek tentu akan muncul akibat divestasi tersebut.
“Namun, ke depannya dana hasil divestasi bisa digunakan untuk ekspansi dari sisi operasional PGAS,” kata dia, Jumat (30/1/2026).
Dari situ, PGAS tentu mesti lebih gencar lagi memperkuat bisnis midstream dan downstream melalui ekspansi pengembangan jaringan pipa transmisi dan optimalisasi LNG. Namun, PGAS juga perlu mewaspadai tantangan kebutuhan capital expenditure (capex) yang besar dan kebijakan tarif gas industri yang dapat membatasi margin.
Praska menyebut, saham PGAS tetap menarik untuk dikoleksi mengingat emiten ini biasanya menawarkan yield dividen yang atraktif. Saham PGAS pun direkomendasikan buy on weakness dengan target harga di level Rp 2.200 per saham.