Free float, MSCI dan valuasi: Tanya jawab bersama Agus Salim Pangestu

Ifonti.com  Topik MSCI, free float dan likuiditas pasar saham di bursa Indonesia sedang menjadi perbincangan hangat. Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk, putra Bapak Prajogo Pangestu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pasar terkait dengan saham-saham emiten Barito Pacific.

 

Tim Kontan: Bagaimanakah dampak isu MSCI ini kepada perusahaan yang ada di Grup Barito Pacific? Apa pandangan Bapak terkait label “concentrated ownership” yang disematkan kepada perusahaan Bapak?

Agus: Sebenarnya keputusan penyedia indeks berada di luar kontrol kami, dan sebagai emiten, kami tidak memiliki wewenang mempengaruhi keputusan apakah sebuah indeks hendak memasukkan kami atau tidak. Masing-masing indeks pun punya preferensi dan rumus perhitungan yang berbeda.

Pada dasarnya, fokus utama kami sebagai perusahaan adalah untuk merealisasikan pertumbuhan bisnis agar dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk investor, yang diharapkan dapat terefleksikan melalui mekanisme pasar untuk saham-saham kami.

Yang penting saya sampaikan di sini adalah semenjak kami dan anak usaha listing di BEI, tidak ada perubahan besar di struktur pemegang saham kami. Seluruh informasi ini sudah menjadi data publik dari sebelum pengumuman masuk indeks.

Sebagai gambaran, total pemegang saham publik dari keseluruhan emiten di PT Barito Pacific Tbk dan anak usaha yang sudah go public adalah lebih dari 400 ribu, dan sepengetahuan saya, banyak juga didominasi oleh ritel. Bagi kami ini adalah bentuk kepercayaan.

Pak PP sebagai Chairman juga memberikan dukungan yang kuat kepada perusahaan, dimana kami dari manajemen sangat mengapresiasi hal ini, dan juga berterima kasih kepada para investor atas kepercayaannya.

 

Tim Kontan: Bagaimana pandangan Bapak terkait free float grup perusahaan Bapak yang dipandang kecil?

Agus: Seluruh perusahaan di grup kami saat ini mematuhi peraturan free float yang berlaku, dan untuk beberapa emiten free floatnya berada di atas itu. Saya paham bahwa ketentuan free float yang ada saat ini bukannya tanpa alasan, semuanya memperhitungkan kemampuan pasar untuk menyerap float ini. Saat ini kami terus memantau perkembangan situasi terkait perubahan regulasi free float dan akan menunggu detil regulasi yang baru. Upaya untuk pendalaman pasar terutama peningkatan likuiditas di Indonesia penting untuk menjadi lebih baik.

 

Tim Kontan: Menurut Bapak, apakah akan terserap di market?

Agus: Nah itu tantangannya, kita harus lihat nantinya akan seperti apa. Sebagai konteks, 10 persen dari valuasi Rp 100 milyar adalah Rp 10 miliar, dan jika valuasi perusahaan adalah Rp 100 triliun, sehingga yang butuh diserap adalah Rp 10 triliun. Ini menggambarkan tingkat penyerapan pasar yang diperlukan. Sebagai referensi, pada tahun 2025 kemarin, total pendanaan yang didapatkan dari seluruh emiten yang go public adalah Rp 18 triliun, di mana yang terbesar untuk satu perusahaan adalah Rp 4,7 triliun.

Maka jika nantinya akan menjadi minimum 15 persen, setiap emiten perlu diberikan waktu sesuai kebutuhan jumlah Rupiah yang harus diperoleh.

 

Tim Kontan: Beberapa pihak merasa valuasi perusahaan-perusahaan grup Bapak sangat mahal, dengan price to earnings ratio yang tinggi. Bagaimanakah Bapak menyikapi hal ini?

Agus: Mungkin saya coba berikan gambaran sedikit untuk memberikan konteks juga kepada para pembaca. Perusahaan kami sudah memiliki rekam jejak cukup lama di Indonesia. Kami memulai di bisnis kayu, namun telah bertransformasi dalam 20 tahun terakhir ke energi, petrokimia, infrastruktur dan properti. Transformasi ini terus berjalan, terakhir adalah dengan ekspansi ke luar negeri oleh anak usaha kami. Jadi bisa dibilang saat ini Barito Pacific merupakan perusahaan Indonesia yang memiliki rekam jejak di kawasan regional. Revenue dari sales kami saat ini mayoritas berasal dari operasional di luar negeri. Namun semua usaha kami terkonsolidasi di Indonesia.

Barito Pacific hari ini berada pada fase growth yang tinggi dan ekspansif, diwarnai dengan pembangunan pabrik baru, peningkatan kapasitas, dan aksi korporasi untuk merger & acquisition.

Maka, valuasi perusahaan untuk kami adalah cerminan dari realisasi strategi bisnis jangka panjang. Barito Pacific adalah growth-focused companies. Dibandingkan lima tahun yang lalu, revenue Barito Pacific telah meningkat sekitar lima kali lipat.

Di setiap fase milestone besar, kami juga berhasil menarik investor strategis untuk bermitra jangka panjang, dimana tentunya mereka, sebagai investor berpengalaman, sudah memiliki valuasi tertentu terhadap bisnis yang akan diinvestasikan. Pricing inilah yang menjadi benchmark pada saat penawaran saham ke publik. Hal ini membuktikan keberhasilan kami membangun kepercayaan investor dalam maupun luar negeri, dan mendapatkan respon yang positif dari publik.

Kami dan anak usaha selalu memberikan informasi kepada para calon investor bahwa timeframe investasi di perusahaan kami adalah jangka panjang. Untuk membangun sebuah pabrik misalnya, membutuhkan waktu sekitar tiga sampai lima tahun. Meskipun kami menyadari bahwa naik turunnya suatu usaha bergantung pada banyak faktor dan dinamika yang terjadi, dan rekam jejak kami memperlihatkan pertumbuhan usaha yang baik. Jadi horizon ini yang perlu menjadi pertimbangan investor.

 

Tim Kontan: Bagaimana dengan pendanaan untuk ekspansi/pertumbuhan perusahaan Bapak?

Agus: Ekspansi seluruh unit usaha dalam grup Barito Pacific didukung oleh pendanaan yang kuat dan beragam, baik dari ekuitas investor strategis, ekuitas publik,  dan pinjaman.

Dalam lima tahun terakhir, total capital expenditure yang kami deploy adalah sekitar US$ 5 miliar, dimana sebesar 90 persen nya diinvestasikan di Indonesia.

Secara konsolidasi, struktur pendanaan kami adalah: 30 persen berasal dari ekuitas, dimana dari angka tersebut hanya 5 persen didapatkan dari  ekuitas publik, 25 persen dari investor strategis (melalui shares issuance atau investasi langsung di tingkat aset). Sisanya sebesar 70 persen berasal dari hutang, dengan komposisi 23 persen dari bank internasional, 18 persen dari bank domestik non himbara, 18 persen dari bank himbara domestik, dan sisanya dari penerbitan surat utang.

 

Tim Kontan: Sekarang di market sering dibicarakan soal saham gorengan. Apa pandangan Bapak terkait hal ini?

Agus: Saya melihat definisi saham gorengan ini lebih ke upaya untuk pump and dump  yang pada akhirnya merugikan investor. Definisi gorengan tidak bisa secara serta merta diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang secara operasional dan revenue terus meningkat, dengan strategi bisnis yang jelas, rekam jejak perusahaan yang baik dan prospek pertumbuhan yang besar di masa depan.

Sebagai contoh, di Amerika banyak perusahaan dengan valuasi tinggi dan terus meningkat, karena memiliki prospek usaha yang bagus.  Apakah untuk jenis perusahaan seperti ini bisa dianggap sebagai gorengan?

 

Tim Kontan: Kira-kira ada corporate action apa lagi dari Grup Barito Pacific ke depannya?

Agus: Chandra Asri baru saja menyelesaikan proses akuisisi Aster Chemical dan jaringan SPBU milik Esso di Singapura, dan saat ini sedang menyelesaikan proses integrasi pasca akuisisi. Barito Renewables saat ini sedang menggarap beberapa green fields dan menambah kapasitas di eksisting unit pembangkit panas bumi dan angin. Griya Idola unit properti kami saat ini sedang mengembangkan industrial area di Patimban. Dalam beberapa tahun ke depan, kami akan fokus untuk merealisasikan seluruh ekspansi ini. Disamping itu ada beberapa lagi rencana kami, namun saat ini belum dapat disampaikan dahulu.

 

Tim Kontan: Dengan target pemerintah agar Indonesia tumbuh 8 persen, menurut pandangan Bapak, bagaimanakah kita dapat mencapai angka tersebut dan apa peran swasta seperti perusahaan Bapak untuk mendukung hal ini?

Agus: Kami percaya Indonesia bisa mencapai angka pertumbuhan ini. Kami yakin strategi yang saat ini diambil oleh pemerintah merupakan strategi yang bertujuan baik bagi kita semua. Barito Pacific mendukung program pemerintah melalui investasi domestik yang akan meningkatkan lapangan kerja, mengurangi ketergantungan impor, mendukung pertumbuhan ekosistem industri terintegrasi, dan menopang kebutuhan ketahanan energi.