Gen Z China andalkan AI untuk investasi, pasar saham capai USD 14 triliun

Lito Chen, seorang mahasiswa, mengikuti saran yang umum diberikan kepada investor pemula saat mulai berinvestasi pada 2020, yaitu menempatkan tabungan kecilnya ke saham-saham blue chip, seperti perusahaan minuman keras yang kerap dipromosikan analis sebagai pilihan aman. Namun, kenyataannya tidak demikian. Investasi tersebut justru menghapus tabungan yang ia kumpulkan dan mengikis kepercayaannya terhadap analisis keuangan arus utama.

Ketika melakukan riset untuk memilih investasi berikutnya pada paruh pertama 2024, Chen kemudian beralih ke sumber yang lebih akrab bagi generasi muda: chatbot kecerdasan buatan (AI) dan opini kolektif di media sosial.

Dengan berinvestasi pada campuran saham teknologi, pertahanan, pertambangan, dan sektor lain yang direkomendasikan oleh teman-teman di internet serta chatbot seperti Kimi dan Zhipu, ia berhasil menutup kerugian sebelumnya, bahkan memperoleh keuntungan lebih.

“Saya akan lebih mengandalkan AI untuk memilih saham di masa depan. Beberapa saham yang dipilihkan AI untuk saya benar-benar terus naik tanpa henti,” kata Chen, mahasiswa berusia 24 tahun di Shanghai, dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/3).

Sebagai anak muda yang melek teknologi, bahkan terkesan menantang arus, Chen mewakili generasi terbaru investor ritel di China. Para trader Generasi Z yang berani ini memiliki julukan tersendiri di China: Xiao Dengs, atau “orang kecil”. Jumlah mereka yang terus bertambah kini menjadi salah satu pendorong pasar saham China yang bernilai lebih dari USD 14 triliun.

Menurut studi perusahaan sekuritas Ping An Securities Co. dan Hurun Research Institute, dari September 2024 hingga Januari 2025, jumlah investor berusia di bawah 30 tahun di China meningkat dua kali lipat, menyumbang sekitar sepertiga dari total basis investor ritel negara itu yang mencapai 240 juta trader.

Investor berusia di bawah 35 tahun yang mencakup generasi milenial termuda dan seluruh Generasi Z menyumbang lebih dari 45 persen akun perdagangan baru yang dibuka tahun lalu, naik 5 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, menurut media lokal Jiemian.

Kepala ekonom First Seafront Fund Management Co., Yang Delong, bahkan menyebut 2025 sebagai tahun ketika perdagangan Xiao Deng mendominasi pasar dengan “gaya yang tak tertandingi.”

Preferensi Xiao Deng terhadap saham dengan potensi pertumbuhan tinggi turut memicu tren terbaru di sektor teknologi, sementara gaya perdagangan mereka yang cepat dan agresif meningkatkan volatilitas pasar.

Kemunculan generasi ini yang memiliki toleransi risiko berbeda dari orang tua mereka yang cenderung fokus pada tabungan akhirnya mendorong perusahaan sekuritas untuk memikirkan kembali cara berinteraksi dengan generasi investor baru yang berinvestasi dengan cara mereka sendiri. Beberapa broker bahkan mulai meluncurkan maskot karakter kartun, podcast, hingga film pendek dramatis untuk menarik minat investor muda tersebut.

“Perdagangan saham kini semakin bersifat jangka pendek, didorong sentimen, dan lebih dipengaruhi investor muda,” kata manajer dana di Shanghai Prospect Investment Management Co, Yang Ruyi.

Menurut Ruyi, investor berpengalaman cenderung takut terhadap koreksi pasar, sementara investor baru lebih takut tertinggal peluang keuntungan. Perbedaan pola pikir ini secara mendasar mengubah dinamika pasar saham China.

Di luar China, trader Generasi Z sebenarnya telah menjadi kekuatan ekonomi selama beberapa tahun terakhir. Hal ini didorong oleh munculnya platform perdagangan tanpa komisi seperti Robinhood, kebosanan selama pandemi Covid-19, serta lonjakan harga aset seperti kripto, meme stocks, bahkan emas.

Data Federal Reserve menyatakan dari 2016 hingga 2022, orang dewasa di Amerika Serikat (AS) yang berusia di bawah 35 tahun berubah dari kelompok yang paling kecil kemungkinan memiliki akun broker menjadi yang paling banyak.

Namun, kemunculan trader muda di China terjadi lebih lambat, terutama karena investasi properti yang selama ini menjadi mesin utama penciptaan kekayaan di negara tersebut masih menjadi prioritas. Perlambatan pasar properti sejak pandemi, suku bunga rendah, serta dukungan kebijakan dari Beijing telah mengubah dinamika itu, mendorong generasi muda yang berpendidikan tinggi tetapi banyak yang belum mendapat pekerjaan stabil untuk beralih ke pasar saham.

Dengan kontribusi mereka, pasar saham China mencatat kinerja yang sangat baik pada 2025. Indeks acuan CSI 300 naik 18 persen, menjadi kinerja tahunan terbaik sejak awal pandemi.

Meski demikian, jumlah dana yang diinvestasikan oleh para Xiao Deng masih relatif kecil. Menabung pada usia muda cukup sulit di China karena pertumbuhan upah tertinggal dari biaya hidup dan keamanan pekerjaan melemah. Orang tua sering kali turun tangan membantu, terutama ketika anak-anak mereka mengalami utang, sehingga membatasi seberapa besar risiko yang bisa diambil investor muda.

Namun, bahkan jika hanya sebagian dari sekitar 250 juta orang dalam generasi ini yang aktif bertransaksi, investor muda China tetap memiliki kekuatan yang semakin besar untuk menggerakkan pasar. Preferensi mereka terhadap saham teknologi, misalnya, turut mengalirkan dana ke sektor yang ingin dikembangkan Presiden Xi Jinping dalam persaingan dengan AS. Saham kecerdasan buatan juga menjadi favorit para Xiao Deng.

“Partisipasi mereka telah meningkatkan aktivitas perdagangan pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah serta sektor teknologi, yang pada akhirnya membantu pembiayaan dan pengembangan industri baru,” kata analis strategi utama di China Fortune Securities Co., Yan Kaiwen.

Kebangkitan Xiao Deng menandai perubahan dari sikap hati-hati selama bertahun-tahun, ketika pasar saham China sering dipandang sebagai tempat berjudi, bukan sumber kekayaan yang dapat diandalkan. Bahkan sekarang, trader Generasi Z dan orang tua mereka sering kali memiliki pandangan berbeda tentang investasi.

Di Beijing, pekerja teknologi berusia 32 tahun, Jane Wang, mengaku berhenti mengikuti saran investasi ayahnya setelah sang ayah “sangat mendesak” dirinya menjual saham Sungrow Power Supply Co., perusahaan energi terbarukan asal China.

Ayahnya menganggap saham itu terlalu mahal, sementara Wang yakin perusahaan tersebut akan diuntungkan oleh lonjakan permintaan listrik untuk pusat data kecerdasan buatan. Ternyata ia pun benar. Saham tersebut melonjak 130 persen di pasar domestik pada 2025 dan menjadi salah satu penawaran saham perdana (IPO) yang paling dinantikan di Hong Kong tahun ini.

“Saya rasa cara berpikir saya lebih sesuai dengan pasar saat ini,” ujarnya. Ketika ia mencoba menjelaskan rantai pasok AI kepada ayahnya, Wang mengatakan sang ayah hanya menjawab ia “seperti mendengar omong kosong.”