Gencatan senjata AS-Iran, negosiasi tanker Pertamina di Selat Hormuz berlanjut

Pemerintah terus melakukan negosiasi intensif terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang terdampak dinamika geopolitik di Timur Tengah. Hal ini seiring momentum adanya jeda gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dua unit kapal Pertamina, yakni Pertamina Priden dan Gamsunoro sejauh ini dilaporkan belum bisa melintas di Selat Hormuz. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa pemerintah tetap menjalin komunikasi dengan otoritas Iran untuk menyelesaikan proses negosiasi akses pelayaran di Selat Hormuz.

Ia menilai kondisi ini tidak akan mengganggu pasokan energi domestik, khususnya bahan bakar minyak (BBM).

“Mohon tidak dikaitkan bahwa akibat proses negosiasi yang belum itu, nanti seolah-olah akan mengganggu stok suplai. Kan tidak tidak seperti itu,” kata Prasetyo di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (8/4).

Baca juga:

  • Bank Dunia Ungkap Syarat agar Fiskal RI Aman di Tengah Kenaikan Harga Energi
  • Ongkos Haji 220 Ribu Jemaah Turun, Pemerintah Alokasikan Rp 1,77 T dari APBN
  • OJK Ungkap Skema Penguatan Bursa Usai FTSE Pertahankan Status Pasar Saham RI

Prasetyo menjelaskan volume minyak yang sempat tertahan diperkirakan sekitar 1,8 juta barel atau setara dengan cadangan nasional untuk satu hingga dua hari. Meski demikian, pemerintah tidak bergantung pada pasokan tersebut dan telah mengamankan sumber suplai dari wilayah lain.

“Karena yang tertahan itu kalau bicaranya tonase sekitar kurang lebih 1,8 juta barel, setara dengan mungkin cadangan kita satu sampai dua hari. Pemerintah juga tidak tinggal diam kepada masalah. Sumber-sumber dari tempat yang lain harus kita amankan,” ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan komunikasi intensif  terkait kapal tangker dengan Pemerintah Iran masih berlangsung. Ia optimistis proses negosiasi dapat segera rampung, terutama dengan adanya penurunan eskalasi konflik di Timur Tengah selama periode gencatan senjata.

“Dengan ada jeda dua minggu daripada eskalasi di Timur Tengah, mudah-mudahan bisa cepat selesai,” ujar Bahlil pada kesempatan serupa.

Bahlil turut menjelaskan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah relatif terbatas. Ia menyebutkan, porsi impor dari kawasan tersebut berada di kisaran 20%- 25% untuk minyak mentah.

“Kita sudah mampu mendapatkan pengganti dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika Serikat, dan beberapa negara lain. Jadi Insyaallah sudah clear,” kata Bahlil.

Sebelumnya diberitakan, Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang mulai berlaku Selasa (7/4). Kesepakatan ini tercapai hanya sekitar 90 menit sebelum tenggat yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump, yakni Selasa (7/4) pukul 20.00 waktu Washington DC atau Rabu (8/4) pukul 03.00 waktu Teheran.