
Ifonti.com – ,NEW YORK — Bursa saham Amerika Serikat melemah tajam setelah lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran mengonfirmasi serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak mentah, yang memperburuk kekhawatiran pasar mengenai dampak konflik tersebut terhadap pasokan energi global.
Dilansir Business Insider, Jumat (6/3/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak hingga sekitar 7 persen dan ditutup di atas 80 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent naik sekitar 4 persen menjadi 84,74 dolar AS per barel.
Lonjakan harga energi tersebut memicu aksi jual di pasar saham Amerika Serikat. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok hampir 800 poin, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga berakhir di zona merah.
Investor khawatir kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu tekanan inflasi baru dan berpotensi menyeret ekonomi global ke kondisi stagflation, yakni kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Situasi ini juga menimbulkan ketidakpastian terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve). Lonjakan harga energi diperkirakan dapat menunda rencana penurunan suku bunga yang sebelumnya diharapkan pasar.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mencatat penguatan. Saham perusahaan semikonduktor Broadcom, misalnya, naik setelah perusahaan tersebut melaporkan prospek pendapatan yang kuat dari bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Sementara itu, saham Berkshire Hathaway turut menguat setelah perusahaan mengumumkan program pembelian kembali saham serta pembelian saham senilai sekitar 15 juta dolar AS oleh CEO Greg Abel.
Para analis menilai lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik dapat menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar dalam waktu dekat.
Namun, sebagian analis memperkirakan dampak kenaikan harga energi tersebut kemungkinan bersifat sementara jika konflik tidak meluas dan pasokan energi global kembali stabil.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan pemerintah tengah melakukan pendekatan negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang masih berada di Selat Hormuz.
“Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman, sambil kami melakukan negosiasi,” ujar Bahlil ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3) malam.
Pertamina pun telah memastikan keselamatan awak kapal di tengah perang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menyampaikan bahwa dua kapal tanker yang terjebak di Selat Hormuz dan tidak mengganggu ketahanan energi Indonesia, sebab Indonesia lekas mencari alternatif energi di Amerika Serikat.
“Geopolitik tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, tetapi kesiapan pemerintah dalam mendesain, mempersiapkan semua alternatif untuk crude, BBM, dan LPG, insyaallah aman,” ucap Bahlil.
Pencarian alternatif berlangsung beriringan dengan upaya pemerintah membebaskan dua kapal tanker yang terjebak di Selat Hormuz.
Media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel.
Adapun Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut.
PT Pertamina International Shipping (PIS) melaporkan pada Senin (2/3) terdapat empat kapal yang berada di area Timur Tengah, yakni kapal Gamsunoro sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak; kapal Pertamina Pride telah selesai melakukan proses loading dan sekarang sedang berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi; kapal PIS Rinjani, saat ini sedang berlabuh di Khor Fakkan, UAE; serta kapal PIS Paragon yang sedang discharge berada di Oman.
Terdapat dua kapal yang masih berada di dalam area teluk yakni Pertamina Pride dengan Ship Management dari NYK, dan kapal Gamsunoro yang saat ini dikelola oleh Synergy Ship Management. Keduanya juga terus dipantau real time untuk memastikan kondisi keamanan.
“Kedua kapal kami upayakan bisa segera keluar dari area teluk. Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal,” ujar Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita.