IHSG ambles ke level 7.500 akibat kombinasi berbagai sentimen

Ifonti.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan yang cukup dalam di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan intraday Rabu (4/3), IHSG anjlok 4,32% ke level 7.596,58.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, penurunan IHSG saat ini memang masih sangat dipengaruhi oleh eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong risk-off global.

Efek konflik tersebut menciptakan kenaikan harga minyak dunia, ancaman penutupan Selat Hormuz, dan volatilitas pasar keuangan global yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur di emerging markets, termasuk Indonesia.

Namun, selain faktor eksternal, ada juga sentimen domestik yang mempengaruhi laju IHSG hari ini. Salah satunya adalah kebijakan keterbukaan data pemegang saham di atas 1% oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai bagian dari penyesuaian terhadap standar Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Rupiah Terpukul Sentimen Global, Bisa Uji ke Rp17.000 dalam Jangka Pendek

“Ini langkah yang positif untuk transparansi pasar, tetapi dalam jangka pendek bisa memicu kehati-hatian investor karena struktur konsentrasi kepemilikan menjadi lebih terbuka,” ujar dia, Rabu (4/3/2026).

Ditambah lagi, baru-baru ini Fitch Ratings merevisi outlook Indonesia menjadi negatif, meski peringkatnya tetap BBB. Hal ini turut meningkatkan persepsi risiko investasi di Indonesia.

“Pelemahan rupiah juga memperbesar tekanan. Jadi penurunan IHSG saat ini merupakan kombinasi sentimen global dan penyesuaian domestik,” kata Reza.

Untuk ke depannya, Reza memandang IHSG masih rawan bergerak volatil selama konflik geopolitik belum mereda dan rupiah masih berada dalam tekanan. Secara teknikal, IHSG sudah menembus MA 200 yang menandakan perubahan tren jangka menengah menjadi lebih lemah.

Reza memproyeksikan IHSG berpotensi menguji area support berikutnya di kisaran 7.480–7.500 dalam waktu dekat. Jika sentimen global belum membaik, potensi pelemahan IHSG ke area tersebut masih terbuka hingga akhir Maret nanti yang menandakan akhir kuartal I-2025.

Nilai Tokenisasi Properti Melalui Blockchain Diprediksi Tembus US$ 4 Triliun di 2035

“Namun apabila terjadi de-eskalasi konflik dan stabilisasi rupiah, peluang rebound teknikal juga tetap ada,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dalam kondisi pasar seperti ini, hampir semua sektor terdampak lantaran pasar sedang dalam fase risk-off. Investor pun disarankan untuk lebih defensif dan tidak agresif dalam mengambil posisi.

Sektor saham yang relatif masih punya daya tarik untuk dicermati antara lain komoditas seperti minyak dan gas, batu bara, serta emas, karena secara fundamental diuntungkan oleh kondisi geopolitik saat ini. Namun, kembali lagi, investor tetap perlu selektif dan disiplin dalam manajemen risiko.

“Untuk sementara, menjaga cash position dan menunggu konfirmasi stabilisasi pasar adalah strategi yang lebih bijak,” tandas Reza.