
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah cukup dalam pada perdagangan Senin (9/3/2026). IHSG terkoreksi 3,27% ke level 7.337,37 setelah sempat menyentuh level terendah di 7.156 pada sesi perdagangan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan pelemahan IHSG dipicu meningkatnya sentimen geopolitik global yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz membuat sejumlah produsen minyak di Timur Tengah mengurangi produksi karena kesulitan mengirimkan pasokan ke pelanggan.
Ketegangan Timur Tengah Naikkan Permintaan Safe Haven, dari Emas hingga Obligasi
“Akibatnya harga minyak mentah meningkat tajam di atas level US$ 100 per barel, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi inflasi dan perlambatan ekonomi global,” ujarnya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Tekanan tersebut membuat seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia ditutup di zona merah, dengan koreksi terbesar terjadi pada sektor cyclical. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga melemah hingga berada di level Rp16.935 per dolar Amerika Serikat.
Secara teknikal, Alrich menilai IHSG masih berpotensi menguji area support di kisaran 7.200-7.300. Namun jika mampu bertahan di level tersebut, indeks masih memiliki peluang untuk kembali menguji area resistance.
“IHSG diperkirakan berpotensi menguji kembali level 7.200-7.300. Jika masih cukup kuat ada peluang menguji resistance di 7.400 hingga 7.480,” jelasnya.
Dari sisi sentimen domestik, indeks keyakinan konsumen tercatat turun menjadi 125,2 pada Februari 2026 dari 127 pada Januari 2026. Penurunan ini seiring melemahnya prospek ekonomi, ekspektasi pendapatan dalam enam bulan ke depan, serta ekspektasi ketersediaan lapangan kerja.
Di sisi lain, penjualan sepeda motor domestik masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pada Februari 2026, penjualan motor mencapai 587.300 unit atau tumbuh 1% secara tahunan, sekaligus menjadi level tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Sementara itu dari sentimen global, inflasi China tercatat meningkat 1,3% secara year on year (yoy) pada Februari 2026, naik dari 0,2% pada Januari 2026 dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,8%. Kenaikan ini dipengaruhi momentum perayaan Tahun Baru Imlek pada pertengahan Februari.
Momentum THR Lebaran, BBCA Optimistis Minat Investasi di SR024 Meningkat
Investor juga menantikan rilis data ekspor-impor Tiongkok periode Januari-Februari 2026 yang dijadwalkan pada 10 Maret. Selain itu, para menteri keuangan negara G7 juga dijadwalkan membahas kemungkinan pelepasan cadangan darurat minyak secara bersama-sama untuk meredam lonjakan harga energi.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai koreksi IHSG sejalan dengan pelemahan bursa global dan regional Asia di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Terpantau harga minyak mentah menguat di atas US$ 100 per barel dan nilai tukar rupiah sudah menembus level psikologisnya dan berada di Rp 17.009 per dolar AS,” ujarnya.
Secara teknikal, Herditya memperkirakan IHSG berpeluang mengalami technical rebound pada perdagangan Selasa (10/3/2026).
“Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat, cenderung technical rebound dengan support di 7.274 dan resistance di 7.403,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai potensi penguatan tersebut masih bersifat terbatas karena belum adanya sentimen positif baru yang cukup kuat untuk mendorong pasar secara berkelanjutan.
Untuk perdagangan Selasa (10/3/2026), Herditya merekomendasikan investor mencermati saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) pada kisaran Rp2.420-Rp2.540, PT Sentul City Tbk (BKSL) di rentang Rp113-Rp125, serta PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) pada area Rp1.750-Rp1.975.
Harga Saham Tertekan Usai Rilis Kinerja Keuangan, Intip Rekomendasi PGEO
Sementara itu, Alrich merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk dicermati yakni PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).