IHSG diprediksi sentuh 10.000 di akhir 2026, pengamat: Ambisius tapi masih realistis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diproyeksi menembus level 10.000 pada akhir 2026, seperti disampaikan Menteri Keuangan, dinilai ambisius namun masih berada dalam koridor realistis apabila ditopang fundamental pasar yang berkelanjutan.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai struktur pasar modal Indonesia saat ini semakin matang, tercermin dari capaian IHSG sepanjang 2025 yang mampu mencetak rekor tertinggi baru.

“Sepanjang 2025, IHSG mampu mencetak rekor tertinggi dengan kapitalisasi pasar yang sudah menembus kisaran Rp16.000 triliun. Pertumbuhan jumlah investor domestik yang konsisten serta likuiditas pasar yang tetap terjaga menunjukkan fondasi pasar modal nasional semakin kuat,” ujar Hendra kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).

IHSG Diprediksi Tembus Level 9.000 pada 2026, Ini Sentimen Pendorongnya

Ia menambahkan, ketahanan IHSG di tengah tekanan global seperti suku bunga tinggi dan ketegangan geopolitik juga menjadi sinyal positif. Memasuki awal 2026, sentimen pasar kembali menguat, tercermin dari kenaikan IHSG lebih dari 1% pada hari perdagangan pertama tahun ini dengan nilai transaksi yang besar.

Meski demikian, Hendra menekankan bahwa pencapaian level psikologis 10.000 tetap membutuhkan dukungan fundamental yang solid.

“Untuk mencapai level tersebut, penguatan IHSG tidak bisa hanya mengandalkan sentimen jangka pendek, tetapi perlu ditopang pertumbuhan fundamental yang berkelanjutan,” katanya.

Dari sisi pendorong, Hendra menilai pertumbuhan laba emiten, terutama saham-saham berkapitalisasi besar, akan menjadi motor utama pergerakan indeks. Selain itu, peluang kembalinya arus dana asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global berpotensi mendorong aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Stabilitas makroekonomi domestik seperti inflasi yang terkendali, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta kebijakan fiskal yang kredibel akan memperkuat kepercayaan investor,” ujarnya. Di sisi lain, peningkatan peran investor domestik dan keberlanjutan IPO berkualitas juga dinilai mampu memperdalam pasar dan menopang kenaikan kapitalisasi secara lebih sehat.

Secara sektoral, penguatan IHSG pada 2026 diperkirakan masih akan ditopang oleh sektor energi dan sumber daya alam, perbankan, infrastruktur, serta media dan konsumsi. Dalam konteks ini, Hendra menyebut sejumlah saham yang menarik dicermati secara selektif.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dinilai menarik dengan rekomendasi beli dan target Rp 500. Pada awal perdagangan 2026, saham BUMI melonjak 14,75% dan ditutup di level Rp 420, disertai akumulasi asing yang signifikan dengan nilai net buy sekitar Rp 889 miliar.

“Minat asing ini mencerminkan kembali kuatnya daya tarik saham berbasis komoditas, ditopang harga batu bara yang stabil serta langkah diversifikasi bisnis ke emas dan logam berharga,” jelas Hendra.

Merdeka Battery (MBMA) Ubah Perjanjian Pembiayaan Senilai US$ 108,51 Juta

Selain itu, saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) juga direkomendasikan beli dengan target Rp1.800. Transformasi portofolio serta nilai aset bersih yang belum sepenuhnya tercermin di harga saham menjadi katalis utama, terutama jika terjadi revaluasi aset seiring membaiknya sentimen pasar.

Hendra juga menilai PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menarik dengan target Rp 420, seiring potensi pembukaan nilai tersembunyi dari bisnis digitalnya.

“Rumor rencana IPO Vidio kerap dipandang pasar sebagai katalis potensial, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari manajemen,” ujarnya.

Sementara itu, saham PT Sentul City Tbk (BKSL) dinilai layak dicermati dengan target 180, seiring peluang pemulihan sektor properti yang didukung perbaikan likuiditas pasar dan potensi penurunan suku bunga.

Meski prospek pasar dinilai konstruktif, Hendra mengingatkan investor tetap mewaspadai sejumlah risiko, mulai dari ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, dinamika geopolitik, volatilitas nilai tukar rupiah, hingga potensi spekulasi berlebihan pada saham-saham tertentu.

“Strategi yang disarankan adalah diversifikasi portofolio, memadukan saham berfundamental kuat dengan saham bertema siklikal atau katalis korporasi secara terukur, serta tetap disiplin dalam manajemen risiko,” tegasnya.

Secara keseluruhan, Hendra menilai target IHSG menuju 10.000 pada akhir 2026 bukan sekadar optimisme. “Skenario ini bisa diwujudkan jika pertumbuhan laba emiten berlanjut, arus dana asing kembali masuk secara konsisten, dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga,” pungkasnya.