
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2026 dinilai masih positif.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan memiliki ruang kenaikan hingga 12,9% sejalan dengan proyeksi HSBC, yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar dengan potensi imbal hasil tertinggi di Asia, sejajar dengan China dan India.
HSBC sebelumnya menetapkan target IHSG di level 9.450 pada akhir 2026. Namun, secara implisit, proyeksi kenaikan 12,9% membuka peluang IHSG bergerak hingga kisaran 9.760, dengan asumsi penutupan indeks pada 2025 berada di sekitar 8.646.
Pengamat pasar modal Irwan Ariston menilai proyeksi tersebut masih berada dalam batas realistis. Menurutnya, estimasi HSBC mencerminkan kombinasi pertumbuhan laba emiten dan penyesuaian valuasi pasar.
IHSG Menguat ke 8.947.9 di Akhir Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: ADMR, MDKA, INKP
“Proyeksi itu secara implisit merefleksikan target IHSG di kisaran 9.760 dengan rasio price to earnings (PER) sekitar 15,3 kali,” ujar Irwan, Rabu (14/1/2026).
Untuk mencapai level tersebut, dibutuhkan pertumbuhan laba agregat pasar di kisaran 12%–13%. Namun, Irwan menilai asumsi tersebut tergolong cukup optimistis. “Secara konservatif, pertumbuhan laba yang realistis sekitar 5%,” katanya.
Meski demikian, target IHSG tetap dinilai dapat tercapai apabila sentimen pasar membaik dan investor bersedia menerima valuasi di kisaran PER 16 kali, level yang masih sejalan dengan rata-rata historis IHSG.
“Dengan earnings naik sekitar 5% dan PER moderat, target itu masih masuk akal,” ujarnya.
Dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS menjadi faktor kunci. DBS memprediksi indeks dolar (DXY) melemah ke level 94,8 pada kuartal IV-2026, terendah sejak awal 2022. Menurut Irwan, pelemahan dolar berpotensi mendorong arus modal global kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ada pola siklikal empat tahunan di mana dolar cenderung melemah. Jika itu berulang dan suku bunga AS turun, alokasi dana asing ke emerging markets bisa meningkat,” jelasnya.
IHSG Cetak Rekor, Reksadana Saham Bisa Menjadi Opsi Investasi Menarik pada 2026
Dalam skenario tersebut, saham perbankan besar diperkirakan menjadi penerima manfaat utama, disusul sektor konsumer dan infrastruktur. Sektor komoditas dinilai tetap berperan sebagai penahan inflasi, meski kontribusinya terhadap IHSG sangat bergantung pada tren harga global.
Infrastruktur dipandang memberi dukungan lebih stabil melalui belanja pemerintah dan efek pengganda ekonomi, sementara sektor properti berpeluang pulih secara bertahap seiring stabilisasi suku bunga dan membaiknya sentimen domestik.
“Ketiga sektor itu lebih berfungsi sebagai penyeimbang ketidakpastian inflasi dan pertumbuhan, bukan pendorong tunggal IHSG,” ujar Irwan.
Meski prospeknya positif, sejumlah risiko tetap perlu dicermati. Arah kebijakan moneter AS menjadi faktor utama, terutama jika inflasi kembali meningkat dan menahan penurunan suku bunga. “Kondisi itu bisa memicu volatilitas arus modal dan tekanan terhadap rupiah,” katanya.
Selain itu, tensi geopolitik global yang tercermin dari lonjakan harga emas menunjukkan tingginya aversi risiko investor. Dari dalam negeri, stabilitas fiskal, defisit transaksi berjalan, serta konsistensi kebijakan ekonomi dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan pasar.
Target IHSG 9.800: Sektor Komoditas Mana yang Wajib Anda Koleksi?
Irwan juga menyoroti tantangan struktural pasar modal domestik. Minimnya pipeline IPO baru membuat komposisi emiten relatif stagnan, sehingga ekspansi kapitalisasi pasar berpotensi lebih lambat dibandingkan negara lain di kawasan.
Dengan demikian, kinerja IHSG pada 2026 tidak hanya ditentukan oleh sentimen global dan valuasi, tetapi juga oleh kedalaman pasar serta dinamika penawaran saham baru di pasar modal Indonesia.