
Ifonti.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan terus melemah ke bawah level 7.000 dalam waktu dekat.
IHSG ditutup melemah 114,92 poin atau 1,61% ke 7.022,28 pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026). Sebanyak 180 saham naik, 542 saham turun dan 98 saham stagnan.
Melansir RTI, IHSG sudah terkoreksi 4,29% dalam sepekan terakhir. Sejak awal tahun, IHSG turun 18,79% year to date (YTD).
Rupiah Sempat Tembus Rp 17.006 per Dolar AS, Ekonom: Kepercayaan Pasar Sedang Diuji
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus melihat, ada sejumlah sentimen yang membuat IHSG melemah.
Pertama, sentimen geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin memanas akibat serangan ke pulau Kharg. Perang yang semakin lama berpotensi berlangsung selama empat sampai enam minggu.
Kedua, potensi inflasi yang mengalami kenaikkan, sehingga membuat kebijakan bank sentral berpotensi untuk menaikkan tingkat suku bunga.
“Ketiga, defisit utang Indonesia yang semakin melebar, sehingga membuat khawatir pelaku pasar dan investor terhadap kebijakan fiskal Indonesia,” ujarnya kepada Kontan, Senin (16/3/2026).
Dalam waktu dekat, apabila support level 7.000 disentuh, Nico melihat, selanjutnya IHSG akan menuju 6.890. Apabila tersentuh lagi, maka akan menuju ke 6.700 dengan tingkat probabilitas sebesar 63%.
Di tengah kondisi ini, investor disarankan untuk kembali melihat tujuan investasi, durasi investasi, dan profil risiko untuk menentukan langkah atas portofolio investasi mereka.
Apabila investor fokus jangka pendek dan suka volatilitas, strategi untuk membeli sejumlah saham diskon merupakan kesempatan. Jika investor fokus jangka pendek tapi tidak suka volatilitas, wait and see merupakan pilihan.
“Untuk investor jangka panjang, wait and see sampai menunggu momentum merupakan pilihan yang bijak, setidaknya untuk saat ini sembari memegang cash untuk Lebaran,” katanya.
Rupiah Sempat Tembus Rp 17.006 per Dolar AS, Ekonom: Kepercayaan Pasar Sedang Diuji
Sektor yang defensif pun bisa menjadi pilihan bagi investor di tengah kondisi ini. Kemudian, investor bisa memilih perusahaan yang memiliki fundamental dan arus kas yang kuat, serta mempunyai potensi valuasi di masa yang akan datang.
Nico pun merekomendasikan beli untuk LSIP, CTRA, BMRI, BBNI, UNVR, dan BBRI dengan target harga masing-masing Rp 1.670 per saham, Rp 1.125 per saham, Rp 5.860 per saham, Rp 5.035 per saham, Rp 2.430 per saham, dan Rp 4.450 per saham.
Rekomendasi beli juga disematkan untuk BBCA, CPIN, AADI, INDF, dan ASII dengan target harga masing-masing Rp 9.950 per saham, Rp 5.710 per saham, Rp 13.100 per saham, Rp 9.300 per saham, dan Rp 7.120 per saham.