
Ifonti.com – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Rabu (11/2/2026) kemarin dibuka menguat di level 8.152,78 dan ditutup naik 1,96 persen di posisi 8.290,97. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.290,97.
Penguatan IHSG ini terjadi di tengah tekanan pasar global. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah seiring menurunnya harapan pemangkasan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat pelaku pasar di Indonesia tetap bersikap hati-hati.
Data tenaga kerja Amerika Serikat yang masih solid dinilai menahan peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi tersebut berpotensi menekan arus dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski Wall Street melemah, bursa Asia masih bergerak menguat. Korea Selatan dan Taiwan mencatat kenaikan seiring optimisme sektor teknologi dan otomotif. Di Asia Tenggara, bursa Thailand melanjutkan penguatan pascapemilu karena harapan kebijakan ekonomi yang lebih propertumbuhan.
Di dalam negeri, penguatan IHSG belum sepenuhnya didukung dana asing. Investor asing tercatat jual bersih sekitar Rp 367 miliar. Saham BBCA, BUMI, BMRI, CDIA, dan WIFI menjadi yang paling banyak dilepas.
Kepala Riset Ritel BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai peluang jangka pendek di pasar saham Indonesia masih terbuka. Namun, sentimen global dan arus dana asing tetap menjadi penentu arah pasar. “Investor ritel perlu selektif dan disiplin mengatur risiko,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (12/2/2026).
BNI Sekuritas merekomendasikan saham BUMI, MAPA, BREN, BBCA, MDKA, dan ANTM untuk strategi perdagangan jangka pendek. Rekomendasi ini ditujukan bagi investor yang siap menghadapi fluktuasi harga.