
Ifonti.com JAKARTA. Volatilitas pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan tinggi usai libur panjang. Gejolak geopolitik global, khususnya di Timur Tengah masih menjadi sentimen utama yang membayangi pergerakan pasar.
Sekadar mengingatkan, IHSG ditutup menguat 1,2% atau naik 84,55 poin ke level 7.106,83 pada Selasa (17/3). Namun sepanjang 2026 berjalan ini, IHSG masih melemah 17,81%.
Selama libur panjang, nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) imbas ketegangan antara AS dengan Iran.
Namun tekanan mereda setelah Presiden AS Donald Trump memberi tenggat waktu lima hari kepada Iran. Namun, ketidakpastian tetap tinggi setelah Iran membantah adanya kesepakatan tersebut.
IHSG Berpotensi Tertekan Usai Libur Panjang, Investor Bisa Buy on Weakness
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan volatilitas pasar masih tinggi seiring ketidakpastian geopolitik dan peluang IHSG terkoreksi masih sangat tinggi.
Menurutnya, meski ada peluang rebound pasca libur panjang, arah pasar tetap sangat bergantung pada perkembangan konflik global. Ketidakpastian perang membuat pelaku pasar cenderung menahan diri.
“Walaupun ada peluang menguat, tapi kami meyakini peluang koreksi IHSG masih lebih besar karena volatilitas di pasar saham masih tinggi,” kata Nico saat dihubungi Kontan, Selasa (24/3).
Meskipun akan memasuki musim RUPS dan pembagian dividen, Nico menambahkan investor perlu berhati-hati dalam memanfaatkan momentum dividen di tengah kondisi pasar saat ini.
Seperti diketahui ada beberapa emiten yang sudah menggelar RUPS dan membagikan dividen. Yakni, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
“Jangan sampai investor mengejar dividen, tetapi justru terjebak dividend trap karena harga saham terkoreksi dan belum tentu cepat rebound,” ucapnya.
Di sisi lain, Nico menilai penurunan harga saham membuat valuasi menjadi lebih menarik untuk jangka panjang. Namun, strategi ini hanya cocok bagi investor yang memiliki dana segar.
Sebaliknya, kata dia, investor dengan dana segar dapat memanfaatkan koreksi untuk melakukan akumulasi bertahap. Namun, strategi ini hanya relevan untuk saham dengan fundamental kuat.
“Kalau tidak punya dana tambahan, lebih baik menunggu. Tapi kalau punya dana lebih, averaging down bisa jadi pilihan dengan catatan fundamentalnya bagus,” jelasnya.
Selain itu, strategi trading jangka pendek dinilai bisa menjadi alternatif untuk menunggangi volatilitas. Menurutnya, investor dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga sebelum kembali melepas posisi.
Dia juga menyarankan investor tetap disiplin dalam manajemen risiko, termasuk menentukan batas cut loss. Tanpa strategi yang jelas, potensi kerugian akan semakin besar di tengah pasar yang tidak stabil.
Lebih lanjut, Nico memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 7.000 hingga 7.200 hingga akhir Maret 2026. Dia bilang arah pergerakan tetap bergantung pada perkembangan konflik global dan kebijakan suku bunga.
Kinerja Saratoga Investama (SRTG) Bisa Prospektif Seiring Kenaikan Saham Komoditas