IHSG melemah, pelaku pasar cermati pidato Trump soal perang

Ifonti.com – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pagi bergerak melemah di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pidato nasional Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (2/4/2026) waktu AS, terkait perkembangan konflik antara AS dan Iran. IHSG dibuka melemah 31,33 poin atau 0,44 persen ke posisi 7.153,11. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,32 poin atau 0,18 persen ke posisi 725,47.

“Fokus pasar kini tertuju pada pidato resmi Trump yang berpotensi menjadi katalis arah pasar berikutnya,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Dari mancanegara, Liza mengatakan sentimen global bergeser dari fase eskalasi menuju deeskalasi, dengan AS menyatakan tujuan utama terhadap Iran telah tercapai dan membuka kemungkinan exit dalam dua hingga tiga minggu tanpa perlu kesepakatan formal.

Di sisi lain, terdapat laporan yang menyebut Presiden Iran Masoud Pezeshkian terbuka untuk mengakhiri konflik dengan sejumlah syarat, seperti pengakuan hak Iran, pembayaran kompensasi, serta jaminan internasional terhadap agresi di masa depan.

Namun demikian, ketidakpastian masih tinggi karena arah kebijakan AS masih inkonsisten, terutama terkait status Selat Hormuz, opsi militer lanjutan, hingga kemungkinan keterlibatan sekutu.

Adapun harga minyak mentah saat ini masih berada di atas level 100 dolar AS per barel di tengah optimisme deeskalasi. Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen minyak global masih tertutup dan lalu lintas tanker sangat terbatas.

Dari data ekonomi dalam negeri, neraca perdagangan Indonesia Februari 2026 mencatat surplus sebesar 1,28 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan ekspor melambat menjadi 1,01 persen (yoy) dan impor masih tumbuh tinggi 10,85 persen (yoy), mencerminkan permintaan domestik yang tetap solid meski momentum eksternal melemah.

Sementara itu, inflasi Maret 2026 turun signifikan ke level 3,48 persen (yoy) dan 0,41 persen (mtm), keduanya di bawah ekspektasi, serta inflasi inti melandai menjadi 2,52 persen (yoy).

Penurunan inflasi terutama didorong normalisasi harga pangan, pakaian, serta base effect pada perumahan dan utilitas, meskipun terdapat kenaikan terbatas pada transportasi dan sektor jasa.

Pada perdagangan Rabu (1/4/2026), bursa saham Eropa kompak menguat. Euro Stoxx 50 menguat 3,05 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,85 persen, indeks DAX Jerman menguat 2,73 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 2,10 persen.

Bursa AS Wall Street juga kompak menguat pada perdagangan Rabu (1/4/2026). Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,5 persen ke 46.565,86, indeks S&P 500 menguat 0,7 persen ke 6.573,89, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,2 persen ke 21.840,95.

Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain indeks Nikkei melemah 991,68 poin atau 1,85 persen ke 52.748,00, indeks Shanghai melemah 9,61 poin atau 0,24 persen ke 3.938,94, indeks Hang Seng melemah 257,53 poin atau 1,01 persen ke 25.036,50, dan indeks Strait Times melemah 14,32 poin atau 0,29 persen ke 4.961,51.

 

Kurs Rupiah

Nilai tukar rupiah pada Kamis (2/4/2026) pagi menguat 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp 16.982 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.983 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh surplus perdagangan Indonesia yang meningkat.

“Surplus perdagangan meningkat menjadi 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026 dari 0,95 miliar dolar AS, ditopang oleh penurunan impor migas,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 masih surplus, sehingga tren surplus terjadi selama 70 bulan berturut-turut. Adapun surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dolar AS.

Petugas menunjukan uang dollar AS di tempat penukaran valuta asing. – (Republika/Thoudy Badai)

Untuk inflasi Maret 2026, tercatat melambat menjadi 3,48 persen year-on-year (yoy) dari 4,76 persen (yoy), yang berarti berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5–3,5 persen. Hal itu didorong oleh memudarnya low base effect serta penurunan harga emas.

Melihat sentimen global, optimisme terhadap potensi berakhirnya konflik Timur Tengah terus menopang pasar keuangan.

Mengutip Anadolu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim “kepemimpinan baru” Iran meminta gencatan senjata dengan Washington. Namun, ia mengatakan AS hanya akan mempertimbangkan permohonan tersebut jika Selat Hormuz dibuka.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeli Baqaei langsung membantah klaim tersebut. Ia mengatakan pernyataan bahwa Teheran meminta gencatan senjata tidak sesuai dengan realitas.

Untuk data ekonomi AS, ADP Employment meningkat menjadi 62 ribu pada Maret 2026, melampaui ekspektasi 40 ribu, meski sedikit menurun dari 66 ribu sebelumnya.

Sementara itu, penjualan ritel meningkat menjadi 0,6 persen month-to-month (mtm) pada Februari 2026 dari minus 0,1 persen (mtm), lebih tinggi dari proyeksi 0,5 persen (mtm).

Di sisi lain, indikator manufaktur menunjukkan hasil beragam, dengan PMI Manufaktur S&P Global sedikit turun dari 52,4 menjadi 52,3, sementara indeks manufaktur ISM meningkat dari 52,4 menjadi 52,7.

Berdasarkan sejumlah faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dolar AS.