IHSG menguat setelah anjlok, cermati prospek dan rekomendasi sahamnya

Ifonti.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat setelah turun tajam dalam tiga hari perdagangan sebelumnya. 

Pada Kamis (5/3), IHSG melonjak 133,47 poin atau 1,76% menjadi 7.710,54 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Meski mulai menghijau, pelaku pasar diminta tetap mencermati sejumlah sentimen yang berpotensi menekan pergerakan indeks ke depan.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, terdapat beberapa sentimen utama yang perlu diwaspadai investor.

Pertama, eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Ketegangan tersebut meningkatkan risk-off sentiment di pasar global dan mendorong aksi jual pada aset berisiko seperti saham.

IHSG Rebound Usai Koreksi Tajam, Analis Ingatkan Risiko Dead Cat Bounce

Kedua, revisi outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif, meski peringkat tetap berada di level investment grade BBB. Perubahan outlook ini dinilai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal dan arah kebijakan ekonomi ke depan.

Ketiga, volatilitas pasar global dan kenaikan harga energi. Lonjakan harga minyak serta pelemahan mata uang emerging markets turut meningkatkan tekanan terhadap pasar saham regional, termasuk Indonesia.

“Investor perlu mencermati perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan fiskal domestik, serta pergerakan dana asing yang masih sensitif terhadap perubahan risiko global,” ujar Alrich kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).

Dalam jangka pendek, Alrich menilai IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pasca koreksi tajam. 

Secara teknikal, koreksi dalam biasanya diikuti technical rebound seperti yang terlihat saat ini. Namun selama sentimen global belum stabil, rebound cenderung terbatas.

Ia memproyeksikan support kuat IHSG berada di kisaran 7.400–7.500 dan resistance jangka pendek di area 7.850–7.900. Apabila tekanan global mereda, IHSG berpeluang kembali bergerak menuju area 8.000 dalam jangka menengah.

Intip Strategi Investor Meraih Cuan Saham LQ45 saat IHSG Terkoreksi

Dalam kondisi pasar seperti saat ini, strategi yang relevan adalah buy on weakness pada saham berfundamental kuat. Koreksi tajam dinilai membuka peluang akumulasi pada saham berkapitalisasi besar dengan valuasi lebih menarik.

Investor juga disarankan melakukan akumulasi secara bertahap guna mengantisipasi volatilitas. Selain itu, fokus pada sektor defensif dan likuid seperti perbankan besar, telekomunikasi, serta komoditas dinilai lebih resilien terhadap gejolak pasar.

Rekomendasi saham

Alrich merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dikoleksi.

Pertama, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Menurutnya, bank ini memiliki fundamental paling solid di sektor perbankan dengan kualitas aset terbaik serta pertumbuhan laba stabil. Area entry berada di sekitar 7.000 dengan target harga 7.800 dan stoploss di bawah 6.600.

Kedua, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang memiliki dominasi pembiayaan UMKM serta potensi pertumbuhan kredit mikro. Entry di kisaran 3.750 dengan target 3.950 dan stoploss di bawah 3.680.

Ketiga, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang dinilai defensif dengan arus kas stabil, transformasi digital infrastructure yang berkelanjutan, serta dividend yield relatif menarik. Area entry di sekitar 3.200 dengan target 3.600 dan stoploss di bawah 3.100.

Koreksi IHSG Jadi Peluang Akumulasi Saham Fundamental, Ini Rekomendasi Analis