IHSG tertekan jelang libur Lebaran, analis: aksi profit taking lebih masif

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi tekanan menjelang periode libur panjang Lebaran. Sentimen aksi ambil untung (profit taking) diperkirakan meningkat, seiring kebutuhan likuiditas investor serta meningkatnya ketidakpastian global.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai aksi profit taking menjelang Lebaran tahun ini berpotensi lebih besar dibandingkan periode libur panjang sebelumnya.

Profit taking jelang Lebaran bisa lebih masif dibandingkan libur panjang sebelumnya karena akumulasi risiko geopolitik global dan tingginya kebutuhan likuiditas tunai,” ujarnya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).

IHSG Ditutup Anjlok 3,27% ke 7.337 pada Senin (9/3), PGAS, MBMA, JPFA Top Losers LQ45

Menurut Wafi, tekanan jual berpotensi semakin agresif mengingat aliran dana asing yang keluar dari pasar saham domestik masih berlangsung.

“Tekanan jual akan jauh lebih agresif karena capital outflow asing yang belum reda mendorong investor domestik ikut melikuidasi portofolio untuk memitigasi risiko,” jelasnya.

Ia menambahkan, psikologi pasar saat ini cenderung berada dalam kondisi risk-off. Ketidakpastian geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dinilai dapat memicu aksi jual untuk mengamankan likuiditas sebelum periode cuti bersama.

“Potensi panic selling cukup tinggi untuk mengamankan likuiditas tunai dan menghindari risiko gap down jika eskalasi konflik memburuk saat bursa domestik ditutup selama cuti bersama,” katanya.

Wafi memperkirakan hingga akhir Maret IHSG masih berpotensi bergerak dalam tren bearish dengan volatilitas yang cukup tinggi.

“Sampai akhir Maret IHSG berpotensi lanjut bearish dengan menguji level support di kisaran 7.300, dengan volatilitas tinggi hingga hari perdagangan terakhir sebelum libur panjang,” tambahnya.

Senada, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata juga melihat potensi aksi profit taking yang lebih besar menjelang libur panjang Lebaran.

Ia menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan likuiditas musiman sekaligus respons investor terhadap meningkatnya risiko geopolitik global.

“Menjelang libur panjang, kami memproyeksikan aksi profit taking akan lebih masif dibandingkan tahun lalu. Hal ini merupakan kombinasi kebutuhan likuiditas musiman dan respons investor terhadap ketidakpastian geopolitik yang meningkat selama bursa domestik tutup,” jelas Liza.

Bakal Rights Issue 2,11 Miliar Saham, Begini Prospek Saham Ekalya (ELPI)

Liza menilai pelemahan kapitalisasi pasar yang terjadi belakangan ini juga membuka ruang bagi tekanan jual untuk berlanjut. Dalam kondisi tersebut, sebagian investor memilih melakukan rebalancing portofolio ke aset yang lebih aman atau meningkatkan porsi kas.

“Isu geopolitik global menjadi katalis utama yang membuat pasar saham dunia volatil, sehingga aksi jual untuk mengamankan cash kemungkinan besar terjadi sebelum libur panjang dimulai,” tambahnya.

Di tengah kondisi pasar yang volatil, Wafi menyarankan investor untuk lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio.

Ia menyarankan investor mengurangi porsi saham dan meningkatkan alokasi kas, serta mempertimbangkan rotasi ke aset yang lebih defensif seperti komoditas energi.

Adapun sejumlah saham yang masih menarik untuk dicermati antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga Rp1.750 per saham, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di level Rp3.800 per saham, serta PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) di kisaran Rp11.800 per saham.

Sementara itu, Liza menilai investor sebaiknya bersikap wait and see dalam jangka pendek. Meski demikian, sektor barang konsumsi primer dan ritel dinilai masih menarik untuk dicermati menjelang momentum Lebaran karena didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga.