
Ifonti.com , JAKARTA — International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa dampak konflik di Iran akan dirasakan paling berat oleh negara-negara miskin dan rentan, seiring lonjakan harga energi dan terbatasnya ruang fiskal untuk meredam tekanan ekonomi.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menegaskan bahwa kenaikan harga akibat konflik akan memperburuk kondisi negara yang bergantung pada impor energi.
Tanpa cadangan energi dan dukungan fiskal yang memadai, negara-negara ini berisiko menghadapi tekanan inflasi yang lebih tajam.
: Trump Ultimatum Bisa Hancurkan Iran dalam Semalam
“Semua arah saat ini mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujar Georgieva, dilansir Middle East Eye, Selasa (7/4/2026).
Dia menambahkan, bahkan jika konflik berakhir segera, dampaknya akan bertahan lama dan menekan perekonomian global, terutama di negara berkembang.
: : 38 Hari Perang Melawan Iran, Harga Minyak Melambung dan Bursa AS Anjlok
Menurut IMF, sekitar 85% negara anggotanya merupakan pengimpor energi, sehingga lonjakan harga minyak dan gas akan langsung membebani neraca perdagangan serta anggaran negara. Kondisi ini mempersempit ruang pemerintah untuk memberikan subsidi atau bantuan sosial.
Georgieva mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah mulai mengajukan bantuan pembiayaan ke IMF. Namun, keterbatasan fiskal membuat banyak pemerintah sulit merespons lonjakan harga tanpa memicu tekanan inflasi lanjutan.
: : Kepala Intelijen IRGC Majid Khademi Tewas, Iran Ancam Balasan Besar
Dia juga memperingatkan potensi meningkatnya ketegangan sosial di negara-negara miskin akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama energi dan pangan.
Lonjakan harga energi dipicu oleh terganggunya pasokan global setelah penutupan Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat mendekati US$110 per barel.
Dampak lanjutan juga mulai terasa pada sektor pangan. IMF bekerja sama dengan World Food Programme dan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk memantau risiko gangguan ketahanan pangan global.
Program Pangan Dunia sebelumnya telah memperingatkan bahwa jutaan orang berpotensi menghadapi kelaparan akut jika konflik berlanjut.
IMF menilai, negara miskin akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya, terutama jika distribusi pupuk dan rantai pasok pangan terganggu.
Selain itu, kerusakan infrastruktur energi akibat konflik juga memperpanjang tekanan pasokan. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan puluhan fasilitas energi terdampak, yang memperlambat pemulihan produksi global.
IMF menekankan bahwa respons kebijakan harus lebih terarah, bukan melalui subsidi energi secara luas yang justru berpotensi memperburuk inflasi.
Dukungan yang tepat sasaran dinilai lebih efektif untuk melindungi kelompok rentan di tengah ketidakpastian global yang meningkat.