IMF siap bantu ekonomi negara yang terimbas konflik Timur Tengah

Jakarta, IDN Times – International Monetary Fund (IMF) menyatakan siap membantu negara-negara yang mengalami masalah ekonomi imbas konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Sebab, menurut Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sudah ada beberapa negara yang mengalami gejolak ekonomi imbas konflik di Timur Tengah sehingga mereka tidak bisa membayar utang.

“Beberapa anggota kami yang memiliki kekhawatiran signifikan terkait neraca pembayaran telah menghubungi kami. Kami siap bertindak. Kami menyadari tanggung jawab kami di dunia yang penuh ketidakpastian ini untuk menjaga stabilitas (ekonomi),” kata Georgieva dalam sebuah wawancara yang dilakukan bersama Bloomberg pada Jumat (6/3/2026). 

1. Konflik di Timur Tengah memengaruhi ekonomi global

Saat ini, konflik yang terjadi di Timur Tengah imbas serangan AS-Israel ke Iran sudah memengaruhi kondisi ekonomi global. Menurut IMF, sudah ada beberapa negara di dunia yang merasakan kontraksi ekonomi imbas konflik di kawasan tersebut. Hal ini terjadi karena harga minyak mengalami kenaikan setelah Iran menutup Selat Hormuz. 

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur utama perdagangan internasional. Selat Hormuz sering digunakan oleh negara-negara Timur Tengah untuk mengekspor minyak ke pasar global. Tercatat, ada lebih dari 20 persen aktivitas perdagangan minyak dunia yang terjadi di selat tersebut. 

Beberapa waktu lalu, Iran menutup Selat Hormuz karena situasi di selat tersebut sedang tidak aman. Sebab, rudal-rudal AS dan Iran kerap mengenai kapal-kapal dagang yang berlayar di sana. Imbas penutupan ini, negara-negara penghasil minyak dunia jadi tidak bisa mengekspor minyaknya ke pasar global. Hal inilah yang menyebab harga minyak global melonjak drastis.

2. IMF menyoroti kenaikan harga minyak imbas konflik di Timur Tengah

IMF juga sudah menyoroti kenaikan harga minyak ini. Menurut Georgieva, negara-negara yang paling terkena dampak kenaikan harga minyak gobal karena konflik di Timur Tengah adalah negara-negara di Kepulauan Pasifik.

Negara-negara di Kepulauan Pasifik memang mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak membuat persediaan minyak mereka berkurang. Hal ini membuat krisis energi berpotensi terjadi sehingga roda perekonomian bisa ikut terdampak. 

Selain negara-negara di Kepulauan Pasifik, Georgieva mengatakan, kenaikan harga minyak global juga berdampak kepada negara dengan pendapatan rendah dan negara dengan jumlah utang luar negeri yang tinggi. Sebab, negara-negara tersebut jadi tidak bisa mengimpor minyak dari luar negeri karena harganya terlalu mahal.

3. Situasi konflik di Timur Tengah semakin membara

Saat ini, situasi konflik di Timur Tengah semakin membara. Sebab, AS dan Israel masih terus menyerang Iran hingga Kamis malam kemarin. Serangan tersebut terjadi di Ibu Kota Teheran. Ini membuat warga setempat terpaksa mengungsi.    

Sejauh ini, korban tewas akibat serangan AS-Israel ke Iran sudah mencapai lebih dari 1.000 orang. Padahal, Palang Merah Iran sebelumnya melaporkan jumlah korban tewas baru mencapai 555 orang. 

Di sisi lain, Israel juga menyerang Ibu Kota Lebanon, Beirut. Israel menyerang Lebanon untuk mengincar milisi Hizbullah yang diduga membantu Iran untuk melawan mereka dan AS. 

Hingga saat ini, Israel juga masih menyerang Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon pada Kamis melaporkan, jumlah korban tewas imbas serangan Israel sudah mencapai 102 orang. Sementara itu, jumlah korban luka sudah mencapai 638 orang.

IMF Sebut Konflik di Timur Tengah Bakal Guncang Ekonomi Global Ini Alasan Purbaya Tolak Usulan IMF soal Naikkan Tarif Pajak Karyawan Tantangan Global Meningkat, 70 Persen Pengusaha di ASEAN Siap Ekspansi