
Ifonti.com JAKARTA. Pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang diperkirakan cenderung mendatar hingga melemah tipis pada 2026 dinilai dapat meredam tekanan terhadap rupiah.
Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal 2026 diperkirakan tidak akan terlalu agresif, meski saat ini masih menunjukkan tren penguatan.
Melansir Tradjng Economics pada Senin (12/1/2026) pukul 12.18 WIB, indeks dolar AS berada di level 98,964 atau menguat 0,72% secara mingguan dan 0,68% secara bulanan.
Pranjul Bhandari, Chief Indonesia and India Economist, HSBC Global Research menilai indeks dolar AS berpotensi bergerak mendatar atau sideways hingga melemah tipis pada 2026, seiring tingginya ketidakpastian di AS.
Modal Asing Seret, Rupiah Diprediksi Tembus Level Rp 17.000 per Dolar AS
Pranjul menjelaskan, sepanjang 2025 indeks dolar AS sempat melemah pada beberapa periode tertentu. Memasuki 2026, tekanan terhadap dolar diperkirakan masih datang dari berbagai faktor, mulai dari dinamika geopolitik global hingga isu kebijakan domestik AS.
Menurutnya. banyak sekali variabel yang memengaruhi pergerakan dolar AS, seperti arah kebijakan tarif, keputusan Mahkamah Agung AS, perubahan regulasi atau undang-undang baru, termasuk RUU Senat terkait Rusia yang sedang digarap Presiden Trump.
“Ketidakpastian ini membuat indeks dolar cenderung bergerak sideways atau sedikit lebih lemah,” ujar Pranjul dalam agenda HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026, Senin (12/1/2025).
Terkait dampaknya terhadap Indonesia, Pranjul menilai kondisi tersebut relatif positif bagi rupiah.
Hal ini sebab penguatan indeks dolar AS justru akan menjadi tekanan besar bagi mata uang Garuda karena membuat rupiah terlihat jauh lebih lemah terhadap dolar.
“Karena itu, pergerakan dolar yang sideways hingga sedikit melemah sebenarnya cukup baik bagi Indonesia dan dapat menjaga sentimen terhadap perekonomian domestik,” jelasnya.
IHSG Menguat ke 8.947.9 di Akhir Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: ADMR, MDKA, INKP
Meski demikian, Pranjul mengingatkan bahwa arah rupiah ke depan tidak hanya ditentukan oleh pergerakan dolar AS, tetapi juga oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia, terutama dari sisi neraca perdagangan Indonesia.
Ia memperkirakan pada 2026 neraca dagang Indonesia berpotensi bergeser dari surplus menjadi defisit tipis.
Hal tersebut disebabkan oleh lonjakan ekspor yang sangat besar sepanjang 2025, termasuk adanya percepatan ekspor (front loading). Jika efek lonjakan itu terkoreksi pada 2026, maka kondisi keuangan eksternal Indonesia bisa sedikit melemah.
“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, saya akan terus mencermati pergerakan nilai tukar. Penilaian saya, rupiah berpotensi mengalami depresiasi ringan seiring berjalannya tahun,” tutup Pranjul.