Indeks Kompas100 Terjun 11%: Analis Justru Rekomendasi Beli Saham Berikut

Ifonti.com Jakarta. Kinerja Indeks Kompas100 masih bergerak melemah sepanjang 2026 sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga terkoreksi sejak awal tahun. Analis melihat, koreksi tersebut sebagai momentum bagus untuk mulai koleksi saham di Indeks Kompas100.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks Kompas100 tercatat turun 11,22% secara year to date (ytd) ke level 1.059,606 hingga Jumat (8/3/2026). Pada periode yang sama, IHSG juga merosot 12,27% ytd ke posisi 7.585,687.

Ringkasan pergerakan indeks:

– Indeks Kompas100: 1.059,606 (turun 11,22% YTD)

– IHSG: 7.585,687 (turun 12,27% YTD)

– Data per: 8 Maret 2026

Tonton: 3 WNI Hilang di Selat Hormuz! Kapal Meledak di Tengah Konflik Iran–AS

Sentimen Global dan Domestik Tekan Indeks

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menjelaskan, pelemahan indeks Kompas100 dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari sisi global, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu sentimen risk-off di pasar keuangan. Kondisi ini juga diikuti volatilitas harga minyak dan komoditas serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global.

Sementara dari dalam negeri, tekanan datang dari arus keluar dana asing serta koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Beberapa sektor dengan bobot besar di indeks turut menjadi pemberat, seperti sektor perbankan yang diisi saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Selain itu, sektor teknologi seperti GOTO dan ARTO serta sektor konsumsi seperti UNVR dan HMSP juga tertekan akibat pelemahan daya beli masyarakat.

Ketidakpastian Suku Bunga Global Jadi Faktor Utama

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima menilai kinerja indeks Kompas100 juga dipengaruhi ketidakpastian kebijakan suku bunga global yang bertahan tinggi dalam waktu lama.

Selain itu, penguatan dolar AS serta meningkatnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan membuat investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, terutama saham di negara emerging markets.

Dari dalam negeri, aksi profit taking pada saham-saham big caps setelah reli kuat sejak 2024 turut memengaruhi kinerja indeks. Di samping itu, rotasi sektor oleh investor institusi dari saham berbasis komoditas menuju sektor defensif juga ikut mempengaruhi dinamika pasar.

Tonton: Terbongkar! ‘Ternak Yayasan’ di Program Makan Bergizi Gratis, BGN Ancam Putus Kontrak

Prospek Kompas100 Masih Menjanjikan

Meski berada dalam fase koreksi, prospek indeks Kompas100 dinilai masih cukup menjanjikan untuk jangka menengah.

Mayoritas saham dalam indeks tersebut merupakan emiten dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, serta fundamental yang relatif solid. Dengan karakter tersebut, saham-saham Kompas100 cenderung lebih stabil menghadapi volatilitas pasar.

Katalis yang dapat mendorong pemulihan indeks antara lain stabilisasi kebijakan suku bunga global, terutama jika pasar mulai melihat peluang penurunan suku bunga acuan The Fed.

Selain itu, perbaikan arus dana asing ke emerging market serta realisasi pertumbuhan laba emiten besar di sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumer juga berpotensi menjadi pendorong pergerakan indeks.

Ramadan Diproyeksi Dongkrak Saham Ritel, Simak Rekomendasi MIDI, MAPA, MAPI, ACES

Sektor dan Saham Berpotensi Menopang Indeks

Menurut analis, sektor perbankan besar masih menjadi penentu utama arah indeks Kompas100 karena memiliki bobot kapitalisasi yang besar.

Saham seperti BBCA, BBRI, dan BMRI dinilai tetap memiliki fundamental kuat dengan pertumbuhan kredit stabil serta margin yang solid.

Selain perbankan, sektor energi dan komoditas juga berpotensi menopang indeks melalui saham ADRO, MEDC, PTBA, dan AMMN yang didukung harga komoditas serta arus kas yang kuat.

Di sektor konsumer defensif, saham seperti INDF, ICBP, MYOR, dan KLBF dinilai relatif tahan terhadap volatilitas global.

Sementara itu, saham bertema hilirisasi mineral seperti MDKA, MBMA, dan NCKL masih memiliki prospek jangka panjang seiring penguatan industri pengolahan mineral di Indonesia.

Di sisi lain, koreksi pasar sejak awal tahun membuat sejumlah saham big caps dalam indeks Kompas100 kini diperdagangkan di bawah rata-rata valuasi historisnya. Kondisi ini membuka peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Beberapa saham Kompas100 yang dinilai menarik untuk dicermati antara lain BBRI, BBTN, TLKM, AADI, PTBA, ENRG, ANTM, dan BUMI.

Dengan demikian, meskipun tekanan indeks saat ini dipicu sentimen global dan arus keluar dana asing, fase volatilitas tersebut berpotensi menjadi periode konsolidasi sebelum peluang pemulihan pasar di masa mendatang.