
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja indeks saham LQ45 tercatat masih lesu di sepanjang tahun 2025. Indeks yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan menjadi acuan utama bagi fund manager global maupun domestik ini hanya membukukan kenaikan 2,41% secara year to date (ytd) hingga akhir perdagangan tahun 2025.
Capaian tersebut jauh di bawah performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mampu melesat hingga 22,13% di periode sama.
Untuk tahun 2026, Junior Research Analyst Sinarmas Sekuritas Dipta Daniswara menilai saham-saham yang berpotensi menjadi penopang kinerja LQ45 berasal dari sektor emas seperti ANTM dan BUMI serta emiten di sektor barang konsumsi yang defensif.
Plaza Indonesia Realty (PLIN) Pasang Target Okupansi Mal di Atas 90% pada 2026
Dipta mengatakan sektor emas cenderung mendapat permintaan kuat ketika ketidakpastian global meningkat, sementara saham consumer goods tetap memiliki permintaan stabil.
“Sebaliknya, saham sektor batubara dan energi diperkirakan tetap menjadi pemberat karena sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global dan kondisi pasar energi,” kata Dipta kepada Kontan, Senin (5/1/2026) malam.
Selain itu, Dipta juga menerangkan saat ini, bobot Indeks LQ45 didominasi oleh sektor perbankan sebesar 38,9% yang terdiri dari BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BBTN, kemudian diikuti oleh saham telekomunikasi dan otomotif seperti TLKM, DSSA, dan ASII.
Dengan komposisi tersebut, kinerja LQ45 pada 2026 akan sangat mencerminkan sensitivitas sektor perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dan arah kebijakan suku bunga.
Namun, karena katalis penurunan suku bunga diperkirakan masih terbatas, potensi peningkatan kinerja sektor perbankan juga masih dibayangi berbagai tantangan, sehingga pergerakan indeks cenderung moderat.