Inflasi 10 tahun tembus 32%, begini strategi portofolio agar return tak tergerus

Ifonti.com – JAKARTA. Sepanjang Februari 2026, pasar finansial domestik bergerak fluktuatif di tengah beragam sentimen, mulai dari dinamika global hingga ekspektasi kebijakan dalam negeri.

Di tengah gejolak tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 6% pada 2026.

Namun, target pertumbuhan yang tinggi kerap beriringan dengan tekanan inflasi.

PT PP (PTPP) Catat Nilai Kontrak Baru Rp 2,76 Triliun per Januari 2026

Vice President Infovesta Wawan Hendrayana mencatat, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir berada di level 2,9% per tahun.

Jika diakumulasikan, inflasi selama satu dekade terakhir telah mencapai sekitar 32%. Artinya, investor perlu memastikan imbal hasil investasinya mampu melampaui kenaikan harga tersebut agar nilai riil kekayaan tetap tumbuh.

Financial Planner sekaligus CEO & Founder Finansialku Melvin Mumpuni menekankan, pentingnya strategi alokasi aset yang tepat agar return investasi dapat mengalahkan inflasi.

“Dalam strategi investasi, yang utama adalah alokasi aset. Dengan komposisi yang berimbang, imbal hasil seharusnya bisa melampaui 3,2% per tahun,” ujar Melvin kepada Kontan, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, komposisi portofolio harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih diliputi ketidakpastian.

Aplikasi Kercerdasan Buatan Lokal Hadir, Begini Dampaknya ke Operator Telekomunikasi

Untuk investor konservatif, likuiditas tetap perlu mendominasi portofolio.

Melvin menyarankan alokasi sekitar 40% pada aset likuid, 40% pada obligasi atau instrumen fixed income, dan 20% pada saham berkapitalisasi besar atau dividend play.

Bagi investor moderat, komposisi dapat dibuat lebih seimbang antara stabilitas dan pertumbuhan.

Ia merekomendasikan alokasi 20% aset likuid, 50% fixed income, serta 30% saham dengan pendekatan value investing atau dividend play.

Sementara itu, investor agresif dapat meningkatkan porsi saham guna mengejar pertumbuhan lebih tinggi.

Komposisi yang disarankan adalah 20% aset likuid, 30% fixed income, dan 50% saham berbasis value.

Melvin juga mengingatkan, strategi investasi tidak berhenti pada pembagian aset semata. Investor perlu secara rutin memantau sejumlah indikator agar portofolio tetap berada di jalur yang tepat untuk mengalahkan inflasi.

Harga Minyak Kembali Melesat, Emiten Migas Perlu Lakukan Strategi Ini

Dari sisi domestik, indikator yang perlu dicermati antara lain arah suku bunga acuan dan kebijakan moneter, pergerakan nilai tukar rupiah, yield obligasi pemerintah, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), serta inflasi inti dan daya beli masyarakat.

Sementara dari faktor global, perhatian perlu diarahkan pada kebijakan suku bunga Amerika Serikat, dinamika geopolitik, serta arus dana asing yang keluar-masuk pasar domestik.

Adapun dari sisi industri dan korporasi, investor disarankan mencermati pertumbuhan laba emiten, margin keuntungan, serta sektor-sektor yang berpotensi diuntungkan oleh siklus ekonomi, seperti komoditas, perbankan, dan konsumer.

Dengan disiplin dalam alokasi aset dan pemantauan indikator ekonomi, investor berpeluang menjaga bahkan meningkatkan nilai kekayaan riilnya di tengah tekanan inflasi.