
Ifonti.com – , JAKARTA — Proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) bergulir dengan diikuti tiga calon yang diusulkan Presiden RI Prabowo Subianto dan Gubernur BI Perry Warjiyo. Solikin M Juhro, salah satu kandidat, memulai proses fit and proper test di DPR RI pada Jumat (23/1/2026).
Di hadapan anggota Komisi XI DPR RI, Solikin memaparkan visi dan misinya untuk menempati posisi Deputi Gubernur BI selama lima tahun ke depan. Ia mengangkat tema besar bertajuk “Memperkuat Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi, Berdaya Tahan, dan Inklusif untuk Indonesia Maju”.
“Tema ini kami pandang sangat strategis dan relevan karena sejalan dengan arah kebijakan pemerintah serta aspirasi seluruh masyarakat Indonesia guna mewujudkan Indonesia maju dan mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap yang hingga saat ini masih menjadi tantangan,” kata Solikin saat mengikuti prosesi fit and proper test di Kompleks DPR RI, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan diperlukan penguatan stabilitas makroekonomi dan keuangan sebagai prasyarat fundamental. Dengan demikian, proses transformasi ekonomi dapat berlangsung secara sehat dan memberikan manfaat yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Solikin merefleksikan berbagai nilai dan pemikiran tokoh terdahulu dalam memaparkan presentasi visi dan misinya. Ia mengutip filosofi leluhur “sangkan paraning dumadi” (kesadaran akan asal dan tujuan) yang menunjukkan bahwa keberadaan bangsa memiliki tujuan untuk kemaslahatan yang luas.
Selain itu, Solikin juga menyadur pemikiran Soemitro Djojohadikusumo, seorang ekonom Indonesia dengan aliran pemikiran sosialisme-nasionalis yang populer dengan sebutan Soemitronomics. Soemitro diketahui merupakan ayah Presiden RI Prabowo Subianto.
“Tentunya kami ingin juga mengikuti pemikiran Profesor Soemitro Djojohadikusumo, bangsawan kita dan kebetulan adalah ekonom yang terkenal, yang tetap relevan hingga saat ini. Bahwa masalah pokok ekonomi Indonesia ialah bagaimana membangun suatu perekonomian nasional yang kuat berdasarkan kekuatan sendiri dan memajukan kesejahteraan rakyat banyak,” terangnya.
Solikin menekankan pemikiran Soemitro tersebut menegaskan pentingnya membangun fondasi ekonomi yang kokoh, bertumpu pada kekuatan domestik, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dari capaian angka, tetapi dari kualitasnya dalam memperkuat struktur ekonomi nasional dan memperluas kemakmuran secara berkelanjutan.
“Untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi berdaya tahan dan inklusif diperlukan penguatan sektor domestik, stabilitas sistem keuangan, serta kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global,” terangnya.
Ia mengatakan misi yang dibangunnya sejalan dengan mandat BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan yang dielaborasi melalui tiga misi, yakni stabilitas yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan ekonomi yang inklusif.
“Ketiga misi yang kami sampaikan ini pada dasarnya juga sejalan dengan semangat Soemitronomics, yaitu membangun kekuatan ekonomi dari dalam, memperkuat fondasi struktural, dan memastikan setiap kebijakan bermuara pada kesejahteraan rakyat banyak,” tegasnya.