Jasa Marga (JSMR) dapat berkah libur Imlek, simak rekomendasi sahamnya

Ifonti.com JAKARTA. Kinerja PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diproyeksikan akan mencatatkan kinerja baik di kuartal I 2026 lantaran ditopang libur panjang Tahun Baru Imlek.

JSMR mencatatkan sebanyak 685.413 kendaraan meninggalkan Jabotabek pada H-4 s.d H-1 Libur Tahun Baru Imlek 2026. Para pengendara tersebut melalui empat Gerbang Tol (GT) Utama, yaitu GT Cikupa (ke arah Merak), GT Ciawi (ke arah Puncak), GT Cikampek Utama (ke arah Trans Jawa) dan GT Kalihurip Utama (ke arah Bandung).

Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan, pada H-1 Libur Tahun Baru Imlek 2026 atau pada 16 Februari 2026, lalu lintas meninggalkan Jabotabek di empat GT Utama masih mengalami peningkatan, tercatat sebanyak 148.232 kendaraan atau meningkat 13,47% dari lalin normal. 

Sementara itu, untuk kendaraan yang kembali ke Jabotabek, kami juga melihat adanya peningkatan jumlah kendaraan. Total sebanyak 165.041 kendaraan telah kembali ke Jabotabek melalui empat GT utama di periode yang sama. 

Indeks Saham Syariah Diprediksi Mengalami Pemulihan Bertahap Menuju Semester II–2026

“Total volume lalin kembali ke Jabotabek ini naik 27,25% jika dibandingkan lalin normal,” ujarnya dalam keterangan pers tanggal 17 Februari 2026.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, kenaikan volume lalu lintas selama libur Tahun Baru Imlek memang memberikan katalis ke raihan pendapatan tol JSMR sepanjang kuartal I 2026.

Namun, puncak kinerja JSMR kemungkinan bukan di kuartal I, melainkan di kuartal II 2026 nanti. Hal ini lantaran ada momentum mudik Lebaran yang tahun ini jatuh di bulan Maret-April tahun ini, yang artinya masuk ke periode akhir kuartal I dan awal kuartal II. 

“Jadi di kinerja kuartal I akan dibuka dengan kuat, tapi kuartal II nanti bisa lebih tinggi secara volume. Penurunan biasanya terjadi di kuartal III, sebelum kembali naik pada libur akhir tahun di kuartal IV,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (18/2).

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas mengatakan, kinerja JSMR di kuartal I ini berpotensi menjadi yang terkuat dibanding kuartal lainnya.

Hal itu didorong oleh lonjakan volume lalu lintas selama periode libur Imlek serta momentum libur Lebaran yang jatuh berdekatan.

“Sehingga, berpotensi mendorong pendapatan tol dan EBITDA lebih tinggi secara kuartalan, sebelum kembali normal pada kuartal berikutnya,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (18/2).

Di tahun 2026, kinerja JSMR dilihat akan lebih baik dari tahun 2025. Sentimen positif berasal dari penyesuaian tarif tol secara berkala di beberapa ruas utama, seperti Tol Trans Jawa. Hal itu akan menjaga margin EBITDA Jasa Marga tetap tebal di tahun ini.

Selain itu, Wafi bilang, rencana spin-off anak usaha JSMR juga bisa menjadi katalis unlocking value dan memperbaiki struktur permodalan. 

Sementara, sentimen negatif untuk JSMR berasal dari kenaikan suku bunga yang bisa menaikkan biaya bunga utang. Selain itu, kenaikan biaya pemeliharaan rutin akibat inflasi juga perlu diperhatikan oleh investor.

“Secara fundamental, JSMR dianggap sebagai sumber kas (“cash cow”) dari BUMN yang solid,” katanya.

Saat ini, JSMR diperdagangkan di bawah valuasi EV/EBITDA dengan rata-rata historis 5 tahunnya. Menurut Wafi, pasar belum sepenuhnya mengapresiasi potensi pertumbuhan dari ruas tol JSMR baru yang sudah mulai matang. 

“Valuasinya masih menarik buat dikoleksi, terutama bagi investor yang mencari pertumbuhan stabil dengan risiko moderat,” tuturnya.

Wafi pun merekomendasikan beli untuk JSMR dengan target harga Rp 5.800 per saham.

Sukarno bilang, perbaikan kinerja JSMR di tahun 2026 didorong oleh penyesuaian tarif tol di tahun 2025. Kebijakan kenaikan tarif tol sekitar 3,5%-11,4% di sejumlah ruas itu diperkirakan meningkatkan average toll yield. 

“Beberapa ruas besar yang sebelumnya tertunda dan dijadwalkan penyesuaiannya pada kuartal IV 2025 berpotensi memperpanjang momentum pertumbuhan di tahun 2026,” ungkapnya.

Sementara itu, valuasi JSMR saat ini tergolong murah dan masih menarik untuk dikoleksi. Hal itu tercermin dari level sekitar price to earning ratio (PE) sebesar 7x dan price to book value (PBV) 0,77x.

“Ini berada di bawah rata-rata historis serta mencerminkan potensi rerating seiring perbaikan kinerja,” ungkapnya.

Sukarno pun merekomendasikan beli untuk JSMR dengan target harga Rp 5.300 per saham.

Saham Big Banks Kompak Menghijau, BMRI Pimpin Kenaikan Rabu (18/2)