Kenapa saat Nyepi harus bakar ogoh-ogoh?

Hari Raya Nyepi merupakan perayaan penting bagi umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. Perayaan ini menandai pergantian Tahun Baru Saka yang dijalani dengan suasana hening selama 24 jam. Pada hari tersebut, berbagai aktivitas seperti bekerja, bepergian, hingga menyalakan lampu dihentikan sementara sebagai bagian dari refleksi diri dan penyucian batin.

Sebelum memasuki hari hening itu, terdapat sejumlah rangkaian ritual yang dilakukan masyarakat Hindu. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah pawai ogoh-ogoh yang digelar pada malam sebelum Nyepi. Patung raksasa dengan bentuk menyeramkan tersebut diarak keliling desa dan biasanya berakhir dengan pembakaran.

Tradisi ogoh-ogoh telah menjadi simbol penting dalam menyambut Nyepi. Selain menjadi bagian dari ritual keagamaan, ogoh-ogoh juga berkembang sebagai karya seni patung dalam ajaran Hindu Dharma yang mencerminkan nilai spiritual sekaligus budaya masyarakat Bali.

Untuk memahami alasan mengapa ogoh-ogoh dibakar saat Nyepi, penting mengetahui pengertian, sejarah, serta makna tradisi ini dalam rangkaian perayaan Nyepi.

Baca juga:

  • 30 Kata-kata Hari Raya Nyepi 2026 Bahasa Bali Berisi Doa dan Harapan
  • 35 Ucapan Selamat Hari Raya Nyepi 2026 Bahasa Bali Penuh Harapan
  • 50 Ucapan Hari Raya Nyepi 2026 yang Penuh Makna, Cocok Sebagai Caption Medsos

Apa Itu Ogoh-Ogoh? Kirab budaya jelang Nyepi di Magelang (ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom.)  

Ogoh-ogoh merupakan salah satu tradisi masyarakat Bali yang identik dengan perayaan Nyepi. Patung ini biasanya ditampilkan pada malam sebelum Nyepi dalam upacara yang dikenal sebagai Pengrupukan atau Hari Ngrupuk.

Secara bahasa, istilah ogoh-ogoh berasal dari bahasa Bali “ogah-ogah” yang berarti sesuatu yang digoyangkan. Istilah ini berkaitan dengan cara patung tersebut diarak keliling desa dengan digoyangkan atau diputar selama pawai berlangsung.

Ogoh-ogoh tampil dalam bentuk boneka raksasa dengan wajah menyeramkan. Bentuknya sengaja dibuat demikian karena menggambarkan sosok Bhuta Kala, yaitu simbol kekuatan jahat atau energi negatif dalam kepercayaan Hindu Bali.

Sebagai karya seni patung dalam ajaran Hindu Dharma, ogoh-ogoh tidak hanya berfungsi sebagai simbol religius, tetapi juga menjadi ekspresi seni masyarakat Bali. Bentuknya dapat beragam, mulai dari sosok raksasa hingga figur mitologi yang menggambarkan dunia manusia, surga, maupun neraka.

Selain itu, ogoh-ogoh juga sering digambarkan menyerupai makhluk seperti naga, gajah, atau wiyadari yang berasal dari kisah mitologi Hindu.

Sejarah Tradisi Ogoh-Ogoh

Tradisi ogoh-ogoh mulai dikenal luas pada sekitar tahun 1983. Pada masa itu, pemerintah Indonesia menetapkan Nyepi sebagai hari libur nasional.

Sejak saat itu, masyarakat Bali mulai membuat perwujudan Bhuta Kala dalam bentuk patung besar yang kemudian dikenal sebagai ogoh-ogoh. Tradisi ini berkembang pesat dan semakin populer dalam rangkaian ritual menjelang Nyepi.

Pada tahun 1990, ogoh-ogoh bahkan diikutsertakan dalam Pesta Kesenian Bali ke-12. Sejak saat itu, pembuatan ogoh-ogoh tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai bentuk ekspresi seni dan budaya masyarakat Bali.

Awalnya, ogoh-ogoh dibuat menggunakan rangka bambu atau kayu yang kemudian dilapisi kertas. Seiring perkembangan zaman, bahan yang digunakan semakin beragam seperti rangka besi, gabus, dan styrofoam sehingga bentuk ogoh-ogoh menjadi lebih besar dan artistik.

Makna Tradisi Ogoh-Ogoh Pawai ogoh ogoh sambut Hari Raya Nyepi di Palangka Raya (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/agr)  

Tradisi ogoh-ogoh memiliki makna filosofis yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Bali. Patung tersebut menggambarkan kekuatan yang disebut bhu yang melambangkan alam semesta dan kala yang melambangkan waktu.

Kedua konsep tersebut berkaitan dengan kekuatan besar yang mempengaruhi kehidupan manusia. Dalam tradisi Hindu Bali, ogoh-ogoh melambangkan sifat buruk manusia seperti nafsu, iri hati, dengki, dan keserakahan.

Karena itulah ogoh-ogoh dibuat dengan wajah menyeramkan dan bentuk yang menakutkan. Patung tersebut menjadi simbol dari sifat negatif yang harus dikendalikan oleh manusia.

Melalui simbol tersebut, manusia diingatkan untuk bersyukur atas kehidupan yang dimiliki sekaligus berusaha memperbaiki diri. Ogoh-ogoh menjadi pengingat bahwa kekuatan alam semesta dan waktu memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia.

Selain itu, ogoh-ogoh juga berkaitan dengan konsep keseimbangan antara bhuana agung dan bhuana alit. Bhuana agung merujuk pada alam semesta, sedangkan bhuana alit merujuk pada diri manusia.

Kenapa Saat Nyepi Harus Bakar Ogoh-Ogoh? BAKAR OGOH OGOH DI GRESIK (ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/Zk/hp.)

Pembakaran ogoh-ogoh memiliki makna simbolis dalam tradisi masyarakat Bali. Ritual ini melambangkan proses pemusnahan sifat buruk serta energi negatif yang digambarkan oleh patung tersebut.

Dengan membakar ogoh-ogoh, masyarakat berharap berbagai pengaruh buruk yang ada di lingkungan maupun dalam diri manusia dapat dinetralkan. Ritual ini juga menandai bahwa kehidupan akan memasuki fase baru yang lebih bersih.

Pembakaran ogoh-ogoh juga menjadi bagian dari proses penyucian alam sebelum memasuki hari Nyepi. Melalui simbol tersebut, masyarakat diingatkan untuk meninggalkan sifat buruk dan memulai tahun baru dengan sikap yang lebih baik.

Setelah pawai dan pembakaran ogoh-ogoh selesai, masyarakat Bali memasuki Hari Raya Nyepi. Pada hari tersebut, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian. Pantangan tersebut meliputi tidak menyalakan api atau lampu, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak mengadakan hiburan.

Dengan suasana yang tenang dan sunyi, masyarakat diharapkan dapat memulai tahun baru dengan kondisi batin yang lebih bersih. Tradisi ogoh-ogoh yang dilakukan sebelumnya menjadi simbol bahwa berbagai sifat negatif telah dibersihkan sebelum memasuki hari yang penuh keheningan tersebut.