Kiat Direktur Utama Recapital Asset Management Alvin Pattisahusiwa meracik investasi

Ifonti.com JAKARTA. Bagi Alvin Pattisahusiwa, Direktur Utama Recapital Asset Management, investasi bukan sekadar mengejar imbal hasil. Investasi adalah soal disiplin, adaptasi, dan memahami risiko.

Hampir tiga dekade berada di industri pasar modal membuat Alvin melewati berbagai fase ekonomi. Dari krisis moneter 1998 hingga pandemi Covid-19, semuanya memberi pelajaran berbeda.

Dia memulai karir di industri investasi sejak 1997. Saat itu, industri reksa dana di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan sekarang.

Sebagai pengelola dana alias fund manager, Alvin terbiasa mengelola dana investor dengan berbagai karakteristik. Ada yang berbasis saham, obligasi, pasar uang, hingga investasi sektor riil.

Dibayangi Sentimen Geopolitik, Rupiah Berpotensi Capai Rp 18.000 per Dolar AS

“Tugas fund manager itu harus disiplin terhadap tujuan investasi dan kebijakan investasinya. Tidak bisa asal mengejar return tinggi,” jelasnya kepada Kontan belum lama ini. 

Menurut Alvin, tantangan terbesar dalam mengelola dana adalah menjaga konsistensi kinerja. Investor tidak hanya mencari keuntungan tinggi, tetapi juga kestabilan hasil investasi.

Dia menargetkan portofolio yang dikelolanya mampu melampaui benchmark. Namun, konsistensi jangka panjang tetap menjadi ukuran utama keberhasilan seorang fund manager.

Pengalaman panjang itu membawanya melewati berbagai gejolak ekonomi global. Salah satu yang paling membekas adalah krisis moneter Asia 1998.

Setelah itu, Alvin menghadapi krisis obligasi domestik pada 2005. Kemudian disusul Global Financial Crisis 2008 yang mengguncang pasar dunia.

Pandemi Covid-19 yang menghantam dunia pada 2020 juga menjadi ujian lain yang tak kalah berat. Belum selesai dunia pulih, pasar kembali dibayangi konflik geopolitik global.

“Di setiap krisis selalu ada kesempatan. Saat orang takut, justru kita harus berpikir lebih panjang,” tutur Alvin. 

RALS Beri Dividen Rp 50/Saham, Lo Kheng Hong Cuan Rp 10 Miliar

Menurutnya, kepanikan adalah musuh terbesar investor. Banyak investor gagal mencapai tujuan karena mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.

Alvin menerapkan pendekatan strategic asset allocation untuk menjaga portofolio tetap adaptif. Strategi ini membantu investor menghadapi perubahan ekonomi tanpa panik berlebihan.

Dalam praktiknya, Alvin selalu membaca arah suku bunga, kondisi global, hingga situasi sektoral. Menurutnya, keputusan investasi tidak boleh hanya melihat kondisi hari ini.

Dia juga terbiasa berpikir beberapa kuartal ke depan. Baginya, fund manager harus mampu bergerak lebih cepat dibandingkan perubahan pasar.

“Kita harus agile dan adaptif terhadap perubahan. Tidak bisa hanya melihat kondisi saat ini saja,” jelasnya. 

Pengalaman mengelola dana investor turut mempengaruhi keuangan pribadinya. Alvin percaya strategi investasi harus berubah mengikuti usia dan kebutuhan hidup.

Dia menyebut konsep tersebut sebagai adaptive asset allocation. Tidak ada strategi investasi yang cocok untuk semua orang.

Pada usia 20 hingga 30 tahun, menurut Alvin, seseorang masih berada dalam fase akumulasi aset. Fokus utama biasanya membeli rumah, kendaraan, atau membangun fondasi keuangan.

Karena itu, dia menyarankan investor muda tidak terlalu agresif. Instrumen yang lebih stabil dinilai lebih cocok untuk tujuan jangka pendek.

“Kalau usia 20 sampai 30 tahun, jangan terlalu banyak masuk aset berisiko. Fokus dulu membangun fondasi aset,” ucap Alvin. 

Memasuki usia 30 hingga 40 tahun, strategi mulai berubah. Pada fase ini, seseorang umumnya sudah memiliki aset dasar dan pendapatan lebih stabil.

Menurut Alvin, investor mulai bisa masuk ke instrumen yang lebih agresif. Reksadana saham menjadi salah satu pilihan untuk tujuan jangka panjang.

Dia mencontohkan kebutuhan pendidikan anak sebagai target investasi yang cocok menggunakan instrumen agresif. Namun, profil risiko tetap harus diperhatikan.

Sementara pada usia 40 hingga 50 tahun, investor masih dapat melakukan akumulasi agresif. Apalagi jika penghasilan dan kondisi finansial sudah lebih mapan.

Namun, strategi kembali berubah setelah memasuki usia 50 tahun. Alvin mulai mengurangi instrumen agresif dan memperbesar aset konservatif serta likuid.

Tujuannya adalah mencapai kebebasan finansial saat pensiun. Dia ingin tetap memiliki penghasilan rutin meski sudah tidak aktif bekerja.

“Kalau usia di atas 50 tahun, saya mulai pindah ke instrumen konservatif untuk mendapatkan penghasilan bulanan rutin,” kata Alvin. 

Saat ini, Alvin mengalokasikan sekitar 30% asetnya di properti. Sisanya terbagi pada aset likuid dan sektor riil.

Sekitar 40% portofolionya ditempatkan pada aset likuid seperti reksadana pasar uang dan obligasi. Sementara 30% lainnya berada di sektor riil dan startup.

Dia mengatakan investasi startup memberikan pengalaman yang beragam. Ada yang sempat menghasilkan keuntungan berlipat saat era digitalisasi meningkat selama pandemi.

Namun, tidak sedikit juga startup yang akhirnya gagal berkembang. Alvin menilai pengalaman tersebut mengajarkan pentingnya diversifikasi investasi.

“Jangan semua uang dimasukkan ke instrumen berisiko tinggi. Diversifikasi itu penting,” jelasnya. 

Alvin menilai financial freedom bukan sekadar memiliki banyak uang. Kebebasan finansial adalah kemampuan hidup dari hasil investasi secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, Alvin menekankan pentingnya membangun aset produktif sejak dini. Semakin cepat memulai, semakin besar peluang mencapai tujuan finansial.

Dia juga melihat perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi investor pemula. Kini investasi bisa dimulai dengan nominal yang sangat kecil.

Di Recapital Asset Management, contohnya, produk reksadana bahkan bisa dibeli mulai Rp 10.000. Alvin menilai kemudahan ini membuat generasi muda semakin dekat dengan investasi.

“Dengan Rp 10.000 saja sekarang orang sudah bisa mulai investasi, yang penting konsisten dan mau belajar,” katanya. 

Meski demikian, Alvin mengingatkan investor muda agar tidak mudah terjebak Fear of Missing Out (FOMO). Banyak orang hanya melihat keuntungan tanpa memahami risiko sebenarnya.

Karena itu, dia menyarankan investor pemula memulai dari instrumen berisiko rendah terlebih dahulu. Reksadana  pasar uang menjadi tahap awal untuk mengenal karakter investasi.

Setelah memahami pola investasi, investor bisa naik kelas ke reksadana pendapatan tetap. Barulah 

kemudian masuk ke reksadana saham atau instrumen volatile seperti kripto.

“Hindari ikut-ikutan tren tanpa memahami instrumennya. Kenali dulu risikonya sebelum membeli,” ucap Alvin.

Bagi Alvin, investasi bukan soal cepat kaya. Perjalanan panjang di pasar modal justru mengajarkannya pentingnya kesabaran, disiplin, dan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan.