
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) atau Cinema XXI pada 2025 dinilai masih cukup stabil meski pertumbuhannya relatif terbatas. Emiten jaringan bioskop ini mencatat pendapatan Rp5,9 triliun sepanjang 2025, naik 2,6% secara tahunan dari Rp5,7 triliun pada 2024.
Namun, laba bersih CNMA turun tipis menjadi Rp776,2 miliar pada 2025. Sementara itu, EBITDA perusahaan tercatat sebesar Rp1,8 triliun.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai pertumbuhan pendapatan yang moderat serta penurunan tipis laba bersih mencerminkan tekanan dari sisi biaya operasional serta normalisasi jumlah penonton setelah periode pemulihan pascapandemi.
“Kinerja stabil namun minim katalis pertumbuhan agresif,” ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).
Harga Aluminium Global Naik, Indonesia Siap Raup Untung dari Bauksit
Meski demikian, Wafi menilai bisnis bioskop masih memiliki daya tarik tersendiri di tengah persaingan dengan platform streaming. Menurutnya, pengalaman menonton secara komunal serta kehadiran film blockbuster membuat bioskop tetap relevan.
Ia juga menilai kenaikan average ticket price (ATP) sebesar 3% menjadi Rp46.057 menunjukkan CNMA masih memiliki ruang untuk menaikkan harga tanpa mengurangi minat penonton.
“Kenaikan ATP membuktikan CNMA masih punya pricing power untuk mengimbangi inflasi tanpa mematikan minat penonton menengah-bawah,” jelasnya.
Sepanjang 2025, Cinema XXI mencatat jumlah penonton mencapai 85 juta orang. Pendapatan perusahaan terutama berasal dari penjualan tiket sebesar Rp3,6 triliun serta penjualan makanan dan minuman senilai Rp2 triliun.
Di sisi ekspansi, CNMA meresmikan 12 bioskop baru dan menambah 43 layar sepanjang tahun lalu. Hingga akhir 2025, perusahaan mengoperasikan 267 bioskop dengan total 1.388 layar yang tersebar di 56 kota dan 30 kabupaten di Indonesia.
Wafi menilai penambahan layar baru dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan kinerja CNMA pada tahun ini, terutama melalui peningkatan jumlah penonton dan kontribusi dari segmen makanan dan minuman yang memiliki margin lebih tinggi.
“Penambahan layar baru jadi motor utama pendongkrak volume penonton dan pendapatan margin tinggi dari segmen F&B pada 2026, khususnya melalui penetrasi ke kota tier dua dan tiga,” katanya.
Ia juga menilai prospek industri film nasional berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja CNMA ke depan. Dominasi film lokal dinilai mampu menjaga trafik penonton bioskop sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rilis film Hollywood.
“Dominasi dan kualitas film lokal saat ini jadi penopang utama trafik bioskop,” tambahnya.
Dengan berbagai faktor tersebut, Wafi memberikan rekomendasi hold untuk saham CNMA dengan target harga Rp160 per saham.
Harga Aluminium Global Naik, Indonesia Siap Raup Untung dari Bauksit