
Ifonti.com JAKARTA. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025, didorong pemulihan harga ayam dan efisiensi operasional.
Ke depan, prospek harga ayam broiler dipandang menjadi salah satu katalis utama, meski dibayangi potensi kenaikan biaya pakan dan perubahan kebijakan impor bahan baku.
Sepanjang 2025, CPIN membukukan pendapatan Rp 70,7 triliun, tumbuh 4,78% secara tahunan (yoy). Laba bersih melonjak 52% yoy menjadi Rp 5,6 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang pemulihan harga jual ayam hidup (live bird) dan day old chick (DOC), serta efisiensi biaya operasional dan penurunan beban keuangan. Segmen pakan ternak juga menjadi penopang kinerja.
Prospek Harga Ayam Broiler Jadi Katalis, Simak Rekomendasi Saham CPIN
Memasuki awal 2026, momentum Ramadan dan Lebaran diperkirakan mendorong konsumsi daging ayam. Kondisi ini berpotensi mengangkat harga ayam hidup dan memperkuat kinerja CPIN.
Selain itu, permintaan unggas tercatat meningkat sejak kuartal IV-2025, seiring penyaluran bantuan sosial pemerintah.
Dari sisi industri, kondisi mulai stabil setelah sempat tertekan pada kuartal II-2025. Perbaikan ditopang koordinasi pelaku industri, termasuk pengendalian pasokan melalui pemusnahan DOC dan pembatasan impor grand parent stock (GPS).
CPIN Chart by TradingView
Dengan harga bahan baku relatif stabil di awal 2026—jagung sekitar Rp 5.900 per kg dan bungkil kedelai Rp 5.000 per kg—titik impas (break even point/BEP) ayam broiler diperkirakan berada di kisaran Rp 19.400 per kg.
Harga ayam broiler sendiri tercatat naik 6% secara bulanan menjadi Rp 24.400 per ekor pada Februari 2026, didorong peningkatan permintaan jelang Lebaran. Sementara harga DOC relatif stabil di level Rp 7.300 per ekor.
Simak Rekomendasi Saham dan Proyeksi Vale Indonesia (INCO) di 2026
Namun, tantangan utama berasal dari potensi kenaikan harga pakan, terutama bungkil kedelai, yang dipengaruhi faktor cuaca dan tensi global.
Selain itu, wacana pengalihan impor bungkil kedelai dari swasta ke BUMN, yakni PT Berdikari, berpotensi menambah ketidakpastian.
“Jika pengelolaan impor menjadi kurang efisien, ini dapat meningkatkan biaya bahan baku pakan bagi CPIN,” ujar analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo.
Pengadaan bungkil kedelai melalui Berdikari diperkirakan mulai berjalan pada akhir Maret 2026, meski detail kebijakan masih menunggu kejelasan pemerintah.
Berdasarkan analisis sensitivitas, setiap kenaikan harga bungkil kedelai sebesar 5% berpotensi menekan pendapatan CPIN hingga sekitar 10,2% pada 2026.
Di sisi lain, kenaikan harga ayam broiler diperkirakan masih mampu menopang kinerja. Meski biaya impor bungkil kedelai berpotensi meningkat, proyeksi masih menunjukkan pertumbuhan laba per saham (EPS) pada 2026.
Wacana Pengalihan Wewenang Impor Bungkil Kedelai, Begini Prospek Kinerja CPIN
Untuk kuartal I-2026, laba bersih CPIN diperkirakan mencapai Rp 1,8 triliun. Secara tahunan, pendapatan diproyeksikan tumbuh menjadi Rp 77,38 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 6,08 triliun.
Sejumlah analis merekomendasikan saham CPIN dengan target harga di kisaran Rp 4.550 hingga Rp 6.000 per saham. Meski demikian, risiko utama berasal dari potensi penurunan harga ayam dan DOC di bawah ekspektasi, serta fluktuasi biaya pakan.