Konflik Timur Tengah makin panas, harga emas Antam diprediksi naik lebih tajam

Ifonti.com – JAKARTA. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bisa berdampak langsung terhadap pergerakan harga emas global dan juga domestik.​

Untuk diketahui, penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, serta memicu lonjakan permintaan emas untuk aset lindung nilai (hedging) utama terhadap inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.

Melansir Trading Economics pada Senin (2/3) pukul 15.40 WIB, harga emas di pasar spot menyentuh US$ 5.405 per ons troi atau naik 2,44% harian dan 9,31% sebulan terakhir.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin berpandangan, efek gangguan di Selat Hormuz terhadap emas saat ini bukan sekadar riak kecil, melainkan peristiwa pengubah tren atau trend shifter yang fundamental.

Ada pun demikian, kenaikan harga emas global memberikan efek “dua kali lipat” bagi harga emas batangan keluaran PT Aneka Tambang (ANTM) karena adanya pengaruh nilai tukar.

Diagnos Laboratorium (DGNS) Siap Private Placement 125 Juta Saham

Asal tahu saja, mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 3.135.000 pada Senin (2/3). Harga emas Antam itu naik Rp 50.000 dalam sehari, jika dibandingkan dengan harga pada Sabtu (28/2) yang berada di level Rp 3.085.000 per gram.

Menurutnya, kenaikan harga emas Antam yang cukup signifikan ini sangat dipengaruhi oleh harga spot global dan nilai tukar Rupiah.

“Ketika Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global, harga emas Antam akan naik lebih cepat dibandingkan kenaikan emas dunia,” ujar Nanang kepada Kontan, Senin (2/3/2026).

Di tengah kondisi saat ini, menurut Nanang strategi investasi emas memerlukan pendekatan yang disiplin agar tidak terjebak dalam fenomena FOMO (takut ketinggalan).

Sarannya, jangan mengalokasikan seluruh dana tunai dalam satu waktu saat harga sedang berada di puncak (All-in). Belilah emas secara rutin, misal sebulan sekali tanpa mempedulikan fluktuasi harga harian. Ini akan membantu investor dalam mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil dalam jangka panjang.

“Ingat bahwa emas adalah aset penjaga nilai (wealth protector). Secara historis, meskipun ada fluktuasi, emas cenderung naik dalam siklus panjang,” terangnya.

Sehingga, emas sebaiknya berfungsi sebagai “asuransi” dalam portofolio, bukan satu-satunya aset. Maka, investor perlu mengalokasikan sekitar 10% hingga 20% dari total aset ke dalam emas. Sisanya dapat ditempatkan pada aset produktif seperti saham atau obligasi untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.

Beban Bahan Bakar Naik, Laba Cikarang Listrindo (POWR) Menurun 4,3% di 2025

Tercatat, sepanjang Februari hingga Maret 2026, harga emas Antam telah bergerak di kisaran Rp 2,86 juta hingga Rp 2,94 juta per gram.

Melanjutkan tren tersebut, Nanang memproyeksi harga emas global hingga semester I 2026 akan menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, didorong oleh kombinasi ketegangan geopolitik yang ekstrem dan kebijakan moneter global yang mendukung aset safe haven.

Tak tanggung-tanggung, harga emas Antam di dalam negeri diperkirakan akan mengalami kenaikan yang lebih tajam akibat efek ganda dari kenaikan harga spot dan potensi pelemahan nilai tukar Rupiah.

Harga emas Antam diprediksi stabil di atas level Rp 3.000.000 per gram, pada semester I tahun ini. Proyeksi moderat pada kisaran harga Rp 3.000.000 – Rp 3.150.000 per gram.

Namun, bila konflik Timur Tengah terus memanas dan berkepanjangan serta makin meluas, dapat mendorong lebih naik. Rp 3.300.000 – Rp 3.850.00 per gram.

“Jika harga mengalami penurunan sementara (pullback) akibat aksi ambil untung investor besar, gunakan kesempatan tersebut untuk menambah muatan. Jangan terburu-buru menjual emas  hanya karena harga turun sedikit setelah lonjakan tajam,” pungkas Nanang.