
Ifonti.com JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong para investor mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas serta mata uang yang dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian seperti Dolar AS, Yen Jepang, Franc Swiss.
Melansir data Trading Economics, harga emas pada penutupan pasar spot Jumat (6/3) naik 1,47% ke US$ 5.158,89 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Sementara itu, DXY berada di level 98,98 menguat 2,24% dalam sebulan.
Kemudian, pairing valas USD/JPY berada di level 157,8 atau menguat 1,26% dalam sebulan. Adapun, pairing valas USD/CHF juga menguat 1,28% sebulan jadi 0,77.
Ada Transaksi Crossing Saham Prime Agri Resources (SGRO), Ini Respons BEI
Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha mengatakan hingga saat ini emas, dolar AS, dan Yen Jepang masih menjadi aset safe haven utama yang sering dimanfaatkan investor ketika terjadi ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik.
“Emas cenderung diminati karena nilainya dianggap stabil dan tidak bergantung pada kebijakan suatu negara, sementara dolar AS tetap kuat karena statusnya sebagai mata uang cadangan global,” ungkap Andy kepada Kontan pada Jumat (6/3/2026).
Sementara itu, yen Jepang sering menguat saat terjadi gejolak pasar karena Jepang memiliki surplus transaksi berjalan dan posisi investor domestik yang besar di pasar global.
Menurut Andy, emas masih dipandang sebagai safe haven utama, terutama dalam situasi risiko geopolitik, inflasi tinggi, atau ketidakpastian sistem keuangan. Berbeda dengan mata uang yang dipengaruhi kebijakan bank sentral, emas dianggap sebagai penyimpan nilai jangka panjang.
Namun, dalam jangka pendek, investor tetap menggunakan dolar AS atau yen Jepang sebagai safe haven yang lebih likuid untuk merespons pergerakan pasar yang cepat.
Andy menilai terdapat indikasi bahwa sebagian investor mulai mendiversifikasi aset safe haven ke instrumen lain seperti obligasi pemerintah AS (US Treasuries), franc Swiss, hingga beberapa komoditas strategis.
Laba Bumi Serpong Damai (BSDE) di 2025 Melorot 41,6% dan Penjualan Turun 7,3%
“Sebagian kecil investor juga mulai mempertimbangkan aset alternatif seperti kripto tertentu, meskipun volatilitasnya masih membuatnya belum sepenuhnya diterima sebagai safe haven utama,” ujar Andy.
Diversifikasi tersebut biasanya dilakukan untuk mengelola risiko portofolio secara lebih fleksibel di tengah dinamika pasar global.