Laba Januari melejit 85%, saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) layak buy

Ifonti.com  JAKARTA. Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di sepanjang tahun lalu memang masih negatif. Tapi kinerja laba tahun buku 2025 BRI dinilai sesuai ekspektasi, dengan biaya kredit yang telah stabil. 

Pada Januari 2026, laba bank-only terlihat tumbuh sehat. Emiten berkode saham BBRI ini mencatatkan laba bersih Rp 3,72 triliun di Januari 2026, angka ini meningkat 85,39% secara tahunan. 

Sementara tahun 2025, laba bersih BRI tercatat turun 5,8% secara tahunan menjadi Rp 56,7 triliun, ini sejalan dengan perkiraan pasar. Menurut Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim dalam riset pada 2 Maret 2026, penurunan ini terutama disebabkan tingginya pencadangan, seiring langkah manajemen melakukan percepatan pembersihan kredit mikro lama (legacy micro clean-up) dan pembentukan cadangan terkait bencana.

Sejumlah Perbankan Makin Selektif Salurkan Pembiayaan Sektor Batubara

Meski demikian, laba operasional sebelum pencadangan alias pre-provision operating profit (PPOP) masih tumbuh moderat sebesar 2,2% secara tahunan. Jeffrosenberg memperkirakan pada tahun 2026, laba BBRI diperkirakan akan kembali tumbuh 7,8% secara tahunan, didukung stabilisasi biaya kredit, portofolio pinjaman yang lebih kuat, serta margin yang tetap terjaga.

Sementara penyaluran kredit BBRI mencapai Rp1.521 triliun pada tahun 2025, tumbuh 12,3% secara tahunan. Pertumbuhan kredit terjadi akselerasi signifikan pada kuartal IV-2025 sebesar 5,8% secara kuartalan. Pertumbuhan ini didorong oleh segmen korporasi, komersial, dan konsumer.

Sementara itu, segmen mikro masih relatif lemah karena BRI secara sengaja memprioritaskan normalisasi kualitas aset. Manajemen BRI menargetkan pertumbuhan kredit tahun 2026 di kisaran 7%–9%, mencerminkan basis penyaluran korporasi yang tinggi serta kehati-hatian berkelanjutan pada segmen mikro. 

Segmen konsumer dan komersial/UKM diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan, sedangkan pemulihan segmen mikro diperkirakan berlangsung secara bertahap.

Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,4% secara tahunan, dengan dana murah (CASA) meningkat 12,7% secara tahunan sehingga rasio CASA mencapai 70,6% level tertinggi sepanjang sejarah. “Perbaikan ini dinilai bersifat struktural, mengingat biaya tabungan tetap rendah di kisaran 30–50 basis poin dan hanya sekitar 10%–20% saldo yang dikenakan suku bunga khusus,” ujar Jeffrosenberg.

Biaya deposito berjangka yang turun signifikan pada kuartal IV-2025, yakni sebesar 58 basis poin secara kuartalan, membantu BRI menekan biaya dana (cost of funds) dan menjaga margin. Net Interest Margin (NIM) tahun 2025 tetap solid di level 7,8%, melampaui panduan manajemen. Untuk tahun 2026, manajemen memproyeksikan NIM di kisaran 7,4%–7,8%, yang mengindikasikan stabilitas margin di tengah normalisasi likuiditas.

Tata Kelola Makin Kokoh, Bank Jakarta Raih Gold Award ERM dan Best CFO 2026

Karena itu, Jeffrosenberg memberi rekomendasi buy saham BBRI dengan target harga Rp 4.900 per saham. Target harga ini didasarkan pada valuasi PBV 2,1x tahun 2026. 

Ke depan, Jeffrosenberg memperkirakan laba BBRI pada tahun 2026 dan 2027 masing-masing akan tumbuh sebesar 7,8% dan 12,7% secara tahunan. Namun demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, antara lain potensi pelemahan kualitas aset yang lebih lama dari perkiraan serta kinerja segmen mikro yang lebih lemah dari ekspektasi.

Di tahun 2026, Maybank Sekuritas memperkirakan laba bersih bisa mencapai Rp 61,06 triliun. Sedangkan di tahun 2027, laba bersih BBRI bisa mencapai Rp 68,8 triliun.